ELECTRONIC MAGAZINE

Perubahan dari media penyimpanan analog menjadi digital yang hanya menggunakan prinsip bilangan biner 1-0, ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Adanya proses konvergensi di dalam proses digitalisasi, yakni penggabungan-penggabungan antara satu media dengan media lain menyebabkan semakin mudah, ringkas, dan efektifnya orang dalam penggunaan media tersebut. Misalnya saja penggabungan antara teks, gambar, suara, film dan lain-lain menyebabkan semakin dimungkinkannya penyajian media dalam satu sarana media saja, yakni internet. Munculnya era digital yang akan menciptakan ruang maya (virtual) ini memungkinkan berubahnya wajah semua industri media massa. Mulai dari electronic book (buku elektronik), electronic magazines (majalah elektronik), electronic news paper (surat kabar elektronik), electronic radio (Radio elektronik), electronic television (televisi elektronik). (Straubhaar, 2002:5)

Berubahnya industri media massa tersebut memaksa semua produknya yang semula berbentuk analog menjadi digital, seperti buku, film, kaset, VCD, DVD, foto, kertas koran, dan lain-lain. Perubahan wajah industri media massa yang menjadi virtual ini mau tidak mau menyeret dunia perpustakaan untuk mengikuti derap kemajuan teknologi informasi yang ada. Berubahnya produk media massa yang sudah menjadi virtual mengubah juga semua koleksi perpustakaan yang jelas-jelas adalah produk media massa itu sendiri. Nantinya semua koleksi perpustakaan terbacakan mesin dan dapat tampil dalam bentuk file-file komputer yang harus dimanajemenkan sedemikian, sehingga mudah ditemukembalikan oleh siapa pun dan dimana pun. Demikianlah bila disesuaikan dengan konsepsi dasar tujuan aplikasi ilmu perpustakaan di dalam kehidupan.

Perubahan wajah industri media massa menjadi virtual dikondisikan oleh adanya kemungkinan perubahan tatanan masyarakat dari masyarakat industri (industrial society) menuju masyarakat informasi (information society) (Ibid, 2002: 16). Posisi dimana masyarakat menganggap bahwa modal utama sektor ekonomi adalah informasi yang mampu menciptakan lahan kerja baru. Bayangkan ketika masyarakat sudah mencapai tatanan masyarakat informasi (information society) ditandai dengan tidak adanya industri media yang bersifat massif dan bentuk fisik analog. Tidak akan ada surat kabar beroplah sangat besar dengan menyeragamkan agenda setting isi berita dengan menganggap, bahwa kebutuhan informasi publik semuanya adalah sama. Demikian juga dengan stasiun televisi dan radio yang sudah benar-benar berpihak ke publik, tidak lagi berpatokan pada prime time dan iklan. Dengan adanya era digital publik sebagai audience-nya berkuasa penuh, dan pola penyeragaman kebutuhan masyarakat yang merupakan model masyarakat industri (industrial society) ditinggalkan. Masyarakat akan dianggap sebagai molekuler antarpribadi secara individualistis bukan kolektivistik lagi. (Tapscot, 1995). Maksudnya di sini manusia harus diakui sebagai individu-individu yang memiliki kebutuhan unik orang per orang.

Sedemikian hebatnya perubahan teknologi informasi yang mampu mengubah tatanan hidup dan pola tingkah laku publik. Perubahan pengakuan kebutuhan orang per orang akan informasi inilah yang memaksa pelaku industri media menciptakan suatu media yang khusus dan unik bagi kebutuhan informasi orang per orang.

Kehadiran teknologi internet yang pesat saat ini yang disinyalir dapat mengakomodir apa keinginan informasi yang diinginkan oleh publik. Bayangkan di era maya (virtual) dimana kepercayaan publik terhadap informasi lewat internet sudah sangat tinggi dan semua kegiatan sepenuhnya lewat internet.

Situasi positif yang mungkin timbul adalah perubahan dari stasiun penyiaran televisi konvensional menjadi stasiun TV elektronik (e-television). Lewat stasiun televisi elektronik tersebutlah diyakini banyak pihak bahwa akan muncul portal-portal informasi akibat adanya proses konvergensi atau penggabungan media-media penyimpanan, seperti teks, suara, gambar, gambar bergerak dan lain-lain yang serba digital.

Kemungkinan yang terjadi dengan adanya portal informasi ini adalah hilang dan bangkrutnya media-media massa dan penyiaran selain televisi Oleh karena itu tidaklah heran bila banyak pemain industri media menanggapi kemungkinan tersebut dengan berpaling ke industri media penyiaran televisi dengan pola kepemilikan silang. Bukti yang nyata saat ini adalah sudah banyak pemilik penerbitan surat kabar besar membuat stasiun televisi dan radio dengan maksud mengantisipasi meledaknya era virtual dan penciptaan portal informasi dimaksud. Dengan munculnya stasiun televisi elektronik yang terjadi adalah perubahan kinerja mereka yang menjadi lebih berfungsi sebagai focal point (pusat rujukan) utama bagi masyarakat.

Sistem kerjanya hampir sama seperti bentuk perpustakaan konvensional saat ini dengan keandalan pada penelusuran dan jasa referensi yang ada, namun semuanya dalam bentuk on line (data terbacakan oleh komputer). Audience tidak perlu lagi menunggu waktu tertentu untuk melihat suatu tayangan televisi. Mereka tinggal memilih keinginannya dengan kemampuan browsing (menelusur) lewat sarana internet tentang apa yang mereka mau lihat dan tayangkan.

Demikian juga dengan keinginan membaca literatur dan mendengar musik dan talk show lewat radio cukup dengan mengakses satu portal informasi stasiun televisi saja. Semua portal informasi menyajikan semua kebutuhan informasi yang sesuai dengan keinginan publik orang per orang bukan massif seperti saat ini. Singkatnya semua media massa pada akhirnya berlaku seperti perpustakaan berbentuk digital, yang berpatokan pada apa yang diinginkan audience orang per orang. Dan kehadiran portal informasi itu akan dikelola oleh para pelaku media yang lebih berorientasi pada industri dan bisnis.

Kertas elektronik tak pelak lagi akan berdampak luas pada tradisi umat manusia memberi dan menerima informasi. Selain dapat digunakan untuk menggantikan peranan LCD dan monitor CRT, kertas elektronik diprediksi akan memulai era penerbitan majalah dan surat kabar online melalui saluran telepon atau gelombang radio.

Lembaran kertas elektronik yang tipis dan lentur juga dapat dijilid menjadi sebuah buku elektronik dalam arti yang sebenarnya. Berbeda dengan e-book yang susah dibaca atau buku tradisional yang isinya tak dapat diganti, buku elektronik tersebut dapat dibaca layaknya membaca buku biasa sekaligus dapat diganti-ganti isinya.

Sebuah buku yang hari ini berjudul Larung dan besok pagi berubah menjadi Origin of the Species. Isi buku dapat dengan mudah di-download dari sebuah komputer eksternal atau dibeli melalui Internet. Dalam skenario ini sama sekali tak diperlukan memori dan baterai!

Dengan menambahkan memori dan rangkaian elektronik yang ditanam pada gigir buku, buku elektronik dapat menjadi jendela dunia yang compact dan serbaguna. Halaman-halamannya dapat di-update secara kontinu untuk menampilkan sisi yang berbeda tanpa perlu koneksi dengan peranti luar. Agar efisien, setiap halaman cukup dihubungkan dengan pengendali tampilan bersama yang disimpan dalam sekeping IC.

Skenario di atas menjadi kian menakjubkan mengingat perkembangan teknologi penyimpanan data yang juga tak kalah hebat. Aplikasi fenomena GMR dan CMR (giant magnetoresistance dan collosal magnetoresistance) serta pemakaian nanodrive, seperti yang digunakan dalam mikroskop automik, memungkinkan penyimpanan data hingga 10 terabyte (1000 GB) pada chip memori berukuran sebesar kartu kredit. Kapasitas itu nyaris setara dengan isi Library of Conggres, perpustakaan terbesar di dunia.

Jika setiap buku elektronik nantinya “ditanami” memori sebesar itu, maka buku elektronik akan berfungsi pula sebagai perpustakaan yang dapat kita genggam ke mana pun kita pergi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

1.     Sejarah Teknologi Elektronik Paper

E-book dan e-paper sebetulnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Konsep pembuatan teknologi ini, konon, sudah terpikirkan sejak lebih 20 tahun lalu, dimulai dengan pengenalan e-book pada 1995. Sadden, Jeff Bezos, mantan profesional di bursa saham Wall Street, dianggap sebagai pelopornya, ketika ia mendirikan http://www.amazon.com, sebuah toko buku online yang kesohor saat ini. Situs ini, selain melayani penjualan buku-buku kelas dunia secara online, juga menjual aneka CD, DVD dan mainan anak-anak. Namun, situs ini sebetulnya hanya memindahkan penjualan dari toko buku ke media internet saja, karena toh buku yang dijual sama saja buku cetak versi toko.  Belakangan baru ditemukan cara menyajikan buku dalam format digital. Artinya, pembaca disodori buku yang bisa di-download dan membacanya cukup di layar komputer atau PDA (personal digital assistant), yang memungkinkan pembaca tidak usah repot membawa perangkat pembaca khusus.  Stephen King adalah contoh yang bagus untuk ini. Penulis cerita horor ini meluncurkan novel Riding The Bullet awal tahun lalu melalui buku elektronik ini. Sambutannya luar biasa. Tak kurang 400.000 pengakses, men-download novel ini. 

Di Indonesia, upaya ini dirintis oleh Penerbit Mizan. Penerbit buku Islami asal Bandung ini, malah menyediakan download gratis buku Wasiat Sufi Imam Khomeini Kepada Putranya, Ahmad Khomeini. Tak tanggung-tanggung, buku yang bisa di-download gratis itu, berjumlah tiga jilid sekaligus. Maka, tak salah jika Mizan mencantumkan E-Book Pertama di Indonesia untuk peluncuran buku ini.  Untuk bisa men-download buku ini, selain pengguna harus mendaftarkan diri terlebih dulu di form pendaftaran, juga lebih dulu harus menyediakan software sebagai sarana membacanya. Untuk komputer Windows 95, 98 atau 2000, biasanya sudah dilengkapi software Adobe Acrobat Reader versi 4.0. Pembaca tinggal mengklik kata download, lalu mengintegrasikannya ke software ini, tiga jilid nasihat almarhum pemimpin Iran itu sudah bisa dinikmati. 

Kertas elektronik adalah sejenis plastik yang berisi jutaan mikro kapsul kasat mata yang tersusun dalam lapisan antara dua celah elektroda. Memang ada dua pengertian tentang buku elektronik ini. Menurut Direktur Pelaksana Penerbit Mizan, Putut Wijanarko, seperti dikutip Bisnis Indonesia, menyatakan bahwa buku elektronik adalah buku yang merujuk pada alat baca elektronik semacam komputer kecil yang berisi file tulisan. Sedangkan pengertian kedua merujuk pada content (isi) yang diedarkan secara elektronik. Buku Khomeini itu, mengacu pada pengertian buku elektronik yang kedua. kertas elektronik ini tidak menggunakan liquid crystal display (LCD), melainkan memakai permukaannya sendiri sebagai layar. Kertas elektronik ini membutuhkan tenaga listrik atau baterai untuk mengoperasikannya.Teknologi ini dikembangkan oleh Xerox, 3M, E Ink dan Lucent Technologies. Celah antara dua elektroda itu terhubung ke permukaan kertas dan transparan. Setiap kapsul mungil berisi butiran putih yang tergantung dalam cairan berminyak berwarna hitam. Ketika sebuah elektroda di permukaan atas diberikan charge negatif, ia menarik butiran ke depannya membuat permukaan tampak putih.  Dengan prinsip kerja yang mengubah-ubah warna itulah, kertas seperti dapat digunakan berulang-ulang. “Tuliskan sebuah kalimat di kertasnya, setelah itu bundel kertas-kertas itu. Bundelan itu akan mirip lazimnya sebuah buku yang dibuat secara tradisional,” kata Asisten Editor CNET Tech Trends, Michael Leaverton.  Bagaimanapun, teknologi ini akan terus dikembangkan sehingga bentuknya mampu menyerupai kertas konvesional, yang bisa dilipat, misalnya. Fitur yang portabel agaknya juga yang akan diperhatikan dalam pengembangan kertas elektronik ini, agar fungsinya tetap seperti kertas cetak konvensional, meskipun tak bisa dipakai berkirim surat via pos. Tapi, bagaimana pun canggihnya, kertas konvensional tetap tak tergantikan. Seperti radio yang tak bisa digantikan oleh televisi sekalipun.

 

        Berawal Dari Tinta ELektronik

Saat ini dengan dunia penuh dengan monitor dan perangkat penampil elektronik LCD dan plasma, Anda barangkali tidak berpikir bahwa kertas adalah bagian dari teknologi penampil yang revolusioner. Tetapi penemuan kertas oleh bangsa Tiongkok secara mendasar mengubah cara dunia berkomunikasi. Tanpa kertas, buku-buku barangkali masih dicetak di atas kain sutra yang hanya bisa dimiliki orang-orang kaya.Lihatlah di sekitar Anda. Rasanya cukup aneh kalau kita hidup tanpa kehadiran kertas dalam berbagai wujudnya. Menurut data dari National Association of Paper Merchants di Inggris, hingga tahun 2000 dunia membutuhkan kertas sekitar 280 juta ton kertas.

Hampir 2.000 tahun tinta di atas kertas adalah satu-satunya cara untuk menampilkan kata-kata dan gambar. Dan hingga saat ini masih mengalahkan tampilan komputer ketika berbenturan akan harga dan portabilitas. Kertas juga tidak membutuhkan sumber daya listrik untuk bisa aktif. Walaupun demikian kertas tetap memiliki keterbatasan: setiap kali dicetak, kata-kata tidak dapat diubah tanpa meninggalkan jejak. Dan juga kertas tidak dapat dibawa ke mana-mana dalam wujud buku.

Kertas elektronik (electronik paper display/EDP/e-paper) atau juga sebelumnya lazim disebut tinta elektronik (e-ink) adalah bentuk material yang diproses ke dalam sebuah film untuk berintegrasi menjadi tampilan elektronik. Walaupun terkesan sangat revolusioner, tinta elektronik adalah fusi langsung ilmu kimia, fisika dan elektronik dalam membentuk sebuah material baru.Komponen mendasar dari tinta elektronik adalah jutaan kapsul mikro yang setara dengan diameter rambut manusia. Setiap kapsul mikro mengandung partikel putih yang bermuatan positif dan partikel hitam yang bermuatan negatif. Keduanya terintegrasi di dalam cairan yang transparan.

Ketika muatan listrik negatif diterapkan, partikel putih akan bergerak ke arah atas kapsul mikro di mana akan terlihat oleh mata pengguna. Hal ini yang memungkinkan permukaan layar terlihat putih pada area tersebut. Pada saat yang bersamaan muatan listrik yang berlawanan menarik partikel hitam ke arah bawah kapsul mikro, sehingga mereka tak terlihat. Dengan membalikkan proses ini, ketika partikel hitam tampil di atas kapsul, akan membuat tampilan menjadi gelap.Agar Anda lebih mudah memahami teknologi ini, bayangkan jutaan kapsul mikro ini adalah bola-bola pantai transparan. Setiap bola diisi dengan ratusan bola-bola ping pong yang kecil. Termasuk udara, bola-bola pantai diisi dengan sejenis cairan elektronis yang disebut blue dye. Jika Anda melihat dari arah atas bola-bola pantai ini, Anda akan melihat bola-bola ping-pong melayang di dalam cairan, dan bola-bola pantai akan terlihat putih.

 

        Kertas Elektronik dan Perpustakaan Seukuran Buku

Dalam lima atau enam tahun kedepan, kertas elektronik (electronic paper) akan tersedia secara masif dengan harga terjangkau. Berkat material ajaib itu, kita dapat memiliki perpustakaan pribadi yang ukurannya tidak lebih besar dari sebuah buku. sebuah dari besar lebih tidak ukurannya yang pribadi perpustakaan memiliki dapat kita itu, ajaib material Berkat terjangkau. harga dengan masif secara tersedia akan paper) (electronic elektronik kertas kedepan, tahun enam atau).Kelemahan kertas, media yang telah digunakan sebagai penampil informasi sejak ditemukan bangsa Cina 20 abad silam, mulai mengemuka pada dua dasawarsa terakhir.

Meskipun murah dan mampu menampilkan citra beresolusi tinggi secara simultan, kertas adalah media sekali pakai yang tak dapat digunakan berulang kali. Proses daur ulang yang menghabiskan banyak waktu dan biaya ternyata hanya sedikit memperpanjang usia pakai kertas. Kelemahan itu menjadi wacana serius, terutama ketika penebangan kayu untuk bahan pulp dituding sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan dunia.Penampil elektronik (electronic display) yang mulai banyak digunakan sejak era 8-an, tidaklah dirancang untuk menggantikan kertas.Kendati demikian, penampil elektronik memiliki kelebihan yang komplementer dengan kertas. Tidak seperti kertas, penampil elektronik dapat me-reset informasi yang ditampilkannya sehingga kita dapat mengisikan informasi baru. Sayangnya media ini pun tak luput dari kekurangan karena hanya dapat menampilkan satu atau dua halaman informasi, butuh daya yang besar serta bersifat kaku.

Fakta-fakta di atas mendorong peneliti di sejumlah institusi riset dunia, seperti Xerox PARC, Media Lab (MIT), dan IBM Research untuk membuat material yang merupakan gabungan antara kertas konvensional dan penampil elektronik. Material pintar yang kemudian dijuluki kertas elektronik itu direkayasa agar sanggup menampilkan informasi berupa tulisan maupun gambar beresolusi tinggi yang dapat di-update setiap saat.

        Prinsip Kerja Kertas Elektronik (e-paper)

Bagaimana menulis di atas kertas elektronik?, proses write and rewrite pada kertas elektronik (khususnya yang berbasis manik-manik renik) cukup dilakukan dengan paparan medan listrik. Sejumlah metode dengan tingkat kerumitan dan harga yang beragam telah dikembangkan untuk mengatur pola medan listrik yang dipaparkan dan membentuk citra yang kita kehendaki.Salah satu peranti yang direkayasa adalah printer khusus untuk kertas elektronik. Adapun untuk membentuk citra baru atau menghapus citra yang telah ada, lembaran kertas elektronik cukup dimasukkan ke dalam peranti yang bentuk fisiknya menyerupai printer kertas biasa itu.

Saat ini, para peneliti tengah merekayasa sebuah “tongkat wasiat” yang jika digelindingkan di atas kertas elektronik akan menghasilkan tulisan dan gambar. Dengan sedikit modifikasi, tongkat wasiat itu akan menjadi peranti multifungsi-printer, scanner, mesin fax, mesin fotokopi-yang sangat mudah dioperasikan.Alternatif lain untuk menulis di atas kertas elektronik adalah dengan elektroda yang dipasang di permukaannya. Elektroda tersebut bertugas mengalirkan sinyal listrik ke larikan manik-manik gyricon maupun e-ink yang masing-masing telah diberi alamat spesifik.

Untuk membuat elektroda-elektroda transparan dalam jumlah banyak dapat digunakan panel TFT (thin film transistor) yang dilapiskan di atas kertas elektronik. Pola-pola tegangan yang akan membentuk tulisan atau gambar dibuat dengan bantuan program komputer. Alternatif ini tampaknya lebih menjanjikan, terutama untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan update yang terus-menerus dan seketika.

 

                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Contoh e-paper

 

Ketika kita kini masuk ke dalam era web 2.0 yang mengedepankan interaktivitas, di lingkungan pendukung dari sisi perangkat keras saat ini berlomba menghasilkan perangkat layar elektronik yang tipis, ringan, hemat, portabel, dan murah layaknya kertas. Maka, sambutlah kedatangan kertas elektronik yang sesungguhnya.Jeff Bezos memang benar-benar orang yang bervisi jauh ke depan dalam mengembangkan bisnisnya, sekaligus bermisi radikal mengubah budaya baca manusia di masa depan. Inilah yang dilakukan Amazon melalui Amazon Kindle. Belum lama ini diluncurkan, perangkat baca e-book ini menegaskan era kertas elektronik kian mendobrak peradaban literasi kita. Padahal aktivitas membaca dengan tingkat portabilitas seperti ini yang setara dengan suratkabar dan buku, hanya bisa dibayangkan melalui novel-novel dan dilihat melalui film-film fiksi ilmiah.

Dengan Amazon Kindle pengguna bisa membaca e-book yang dibeli ataupun didapatkan cuma-cuma dari Amazon ataupun situs lain. Selain e-book, dengan Amazon Kindle, pengguna bisa membaca suratkabar edisi elektronik dari The Times, The Wall Street Journal, The Washington Post, Le Monde, dan majalah Atlantic.Sebelum Amazon Kindle ada beberapa perangkat sejenis yang cukup populer diserap pasar, yaitu Sony Reader yang mampu menampilkan 1200 x 825 pixel dalam mode tampilan SVGA alias Super Video Graphic Display. Seharga sekitar 3 jutaan rupiah, pengguna hanya bisa menikmati tampilan hitam putih.

Saat ini beberapa suratkabar ternama sudah mengadopsi penggunaan kertas elektronik sebagai salah satu layanan tercanggih. Mulai Februari 2006 De Tijd, suratkabar Belgia misalnya menempatkan berita-berita versi elektroniknya pada e-book reader iRex iLiad. Demikian juga suratkabar Echos di Paris yang sudah dimulai September 2007 lalu dengan perangkat yang sama. Sementara itu, pembaca New York Times dan International Herald Tribune akan dapat membaca suratkabar terkenal tersebut dengan menggunakan perangkat Sony Reader tahun ini juga.

 
 

 

 

                         

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. e-Book Reader Booken Cybook Gen3

 

Penanda lainnya adalah dengan diluncurkannya e-book reader Booken Cybook Gen3. Dan saat ini kertas elektronik berwarna (full color) sedang dikembangkan perusahaan pembuat ban, Bridgestone. Kertas elektronik ini mampu menampilkan 4.096 warna dalam ukuran A3 (297 x 420 mm) atau setara dengan layar 21,4 inci. Dirancang menyerupai tinta pada kertas biasa, kertas elektronik ini akan digunakan untuk keperluan poster iklan.Bridgestone juga tengah mengembangkan kertas elektronik dengan ketebalan 0,29 mm dengan kemampuan menampilkan warna sama seperti produk sebelumnya. Dan lebih gilanya lagi, kertas elektronik ini dapat digulung, diremas, bahkan dilipat layaknya kertas biasa!

 

2.     Berbagai Trend Yang Berkembang Di Masyarakat

a.     Newspaper Productions Trend

            Sebelum adanya telegrap, kecepatan pemberitaan tergantung pada kecepatan transportasi. Pada 1848, sebagai layanan online pertama, telegrap secara revolusioner merubah pemberitaan dengan newswire. Penemuan telepon juga merubah kecepatan penyampaian berita. Hingga tahun 1922 hanya ‘kata’ yang bisa dikirim melalui kabel. Namun pada tahun yang sama, bertepatan dengan pemilihan Paus di Roma, foto kabel pertama akhirnya dapat dikirimkan.Saat ini beragam peralatan elektronik telah melengkapi ruang berita. Pengumpulan berita menggunakan hampir semua media yang ada, seperti radio, televisi, kabel, e-mail, dan internet dengan fasilitas chat room, newsgroup sampai blog pribadi. Reporter tidak serepot dulu dalam mencari berita. Reporter dapat menggunakan search engine untuk mencari berbagai data dan informasi mentah. Teknik semacam ini dinamakan computer-assisted reporting (CAR).Dengan berbagai macam media dan teknologi yang mendukung pekerjaan jurnalis, munculah bentuk baru jurnalisme yaitu backpack journalism, dikenal sebagai multimedia reporting. Backpack journalism menjadi istilah baru karena melihat jurnalis dalam mencari berita biasanya membawa backpack berisi mini DV dan tape recorder. Reporter sekarang dapat mengkombinasikan teks, grafik interaktif, gambar dan suara dalam melengkapi berita. Dengan demikian, masyarakat mengetahui suatu berita lebih mendalam, bahkan dapat berinteraksi langsung dengan reporter. Peran editor dalam penyuntingan berita semakin berkurang dan kemampuan reporting semakin diutamakan. 

Pada tahun 1950-an typesetting menjadi perubahan besar dalam produksi berita. Hasil typesetting yang berbentuk paper tape dijadikan data master, kemudian dapat diperbanyak dengan mesin typesetting. Akhir 1960-an, paper tape tersebut disimpan dalam memori komputer dan dapat langsung dicetak setelah proses editing. Tidak bisa dipungkiri, komputer memberi dampak yang besar pula bagi industri pers. Komputer sangat membantu media massa mulai dari pembuatan layout hingga isi. Paper tape yang telah tersimpan dalam komputer, oleh reporter dapat diedit kembali isi dan layout-nya serta dapat dicetak langsung menggunakan printer. Dengan demikian kesalahan dalam proses produksi dapat deperkecil seminimal mungkinSelain itu, satelit juga membantu mempercepat penyampaian berita. Satelit mampu mengirimkan berita ke berbagai lokasi. Mempermudah cabang suatu perusahaan pers mencetak sendiri isi majalah atau surat kabarnya dan menyampaikan berita tepat waktu kepada pembaca di daerah tersebut. 

 

b.    Media Online Newspaper

Pada tahun 1950-an typesetting menjadi perubahan besar dalam produksi berita. Hasil typesetting yang berbentuk paper tape dijadikan data master, kemudian dapat diperbanyak dengan mesin typesetting. Akhir 1960-an, paper tape tersebut disimpan dalam memori komputer dan dapat langsung dicetak setelah proses editing. Tidak bisa dipungkiri, komputer memberi dampak yang besar pula bagi industri pers. Komputer sangat membantu media massa mulai dari pembuatan layout hingga isi. Paper tape yang telah tersimpan dalam komputer, oleh reporter dapat diedit kembali isi dan layout-nya serta dapat dicetak langsung menggunakan printer. Dengan demikian kesalahan dalam proses produksi dapat deperkecil seminimal mungkinSelain itu, satelit juga membantu mempercepat penyampaian berita. Satelit mampu mengirimkan berita ke berbagai lokasi. Mempermudah cabang suatu perusahaan pers mencetak sendiri isi majalah atau surat kabarnya dan menyampaikan berita tepat waktu kepada pembaca di daerah tersebut. 

 

c.     e-paper Gulung atau Lipat

            Di masa depan bukan hanya Amazon Kindle saja yang terdepan menampilkan keunggulan dalam hal teknologi tampilan. Kelak perusahaan periklanan menjadikan teknologi ini sebagai tawaran paling eksklusif bagi klien mereka. Dengan teknologi ini produsen dapat menawarkan produknya lebih interaktif dan menarik, sebab bisa dipasang pada media apa saja. Bayangkan saja di masa depan iklan-iklan video interaktif bisa Anda saksikan di meja-meja makan restoran.

Secara luas, teknologi kertas elektronik menjadi mungkin diterapkan untuk e-book, e-dictionaries, e-newspaper, telepon seluler, PDA, tablet, kamera digital, album digital, ATM, dan berbagai gadget yang bisa dikenakan, seperti gelang, jam tangan, bahkan jaket Anda.

Di masa depan adalah hal yang lumrah para mahasiswa di taman kampus membaca berita dari New York Times melalui internet yang ditampilkan dalam lembaran kertas elektronik setebal 0,3 mm. Dan tak lama kitapun sadar ternyata kita tidak hanya bisa menggenggam bumi dengan memperoleh berbagai jenis informasi dalam jumlah dan bentuk tak terhingga, tetapi juga menggulung dan melipatnya.

 

 

 

 

d.    E-Publishing

Efek perkembangan teknologi komputer dalam penerbitan literatur, contohnya dengan software, sangat menghemat waktu dan tenaga. Salah satunya adalah internet, teknologi ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan penerbitan literatur. Internet digunakan sebagai sarana transaksi perdagangan (e-commerce). Perkembangan ini kemudian dilirik berbagai penerbit sebagai sistem distribusi tambahan bagi penjualan buku-buku mereka. Situs semacam Amazon.com, membantu penerbit menjual buku-buku mereka. Selain penerbit, konsumen pun diuntungkan. Dengan internet mereka tidak perlu repot pergi ke toko buku.

Tinggal klik situsnya, cari buku, pesan, transfer uang dan buku pun sampai di tangan.Layanan ini awalnya dipelopori oleh Google.com bekerjasama dengan berbagai perpustakaan besar dalam konversi. Kerjasama itu dilakukan dengan cara scanning terhadap berbagai koleksi perpustakaan dan mengubahnya dalam format digital. Untuk mengatasi masalah perizinan, memperbanyak atau penggandaan, mencetak atau menggunakan copyright maka diperkenalkanlah teknologi encryption. Teknologi ini juga berfungsi membatasi akses pelanggan berbayar. Namun kemudian masalah yang sulit dihilangkan dengan buku-buku online adalah kesulitan membaca tulisan di layar komputer (Frost 1996). Teks komputer lebih sulit dibaca, kurang lebih 60% lebih lambat dibandingkan membaca di kertas.Permasalahan lain terkait dengan e-publishing adalah format standar yang digunakan. Saat ini format PDF (Portable Document Format) paling banyak digunakan dalam download buku, namun masih diperdebatkan apakah format ini yang akan dikembangkan dan diperkenalkan secara luas. Penerbitan elektronik tidak hanya mencakup buku, industri majalah dan surat kabar juga terjun dalam tren elektronik ini. Dengan teknologi e-publishing, sangat memungkinkan bagi kita untuk menyimpan dan melindungi buku-buku terbitan lama. Software optical character recognition (OCR) membantu memuat buku-buku tersebut. Caranya adalah dengan mengkonversi kata-kata yang telah tercetak dalam buku dalam computer readable character. 

 

e.        Costum Publishing

Sejak digunakannya mesin Guttenberg dalam bidang percetakan dan penerbitan, perkembangan teknologi percetakan terus berkembang. Perkembangan ini berputar disekitar penemuan cara ataupun teknologi terbaik dan termurah dalam mencetak. Sejak tahun 1960, komputerisasi mulai mendorong perubahan pada media cetak. Pada awalnya komputer digunakan untuk membantu typesetting, yang secara otomatis menaruh tanda penghubung dan memberi jarak pada tiap garis. Tahun 1970, komputer mulai menggantikan typesetting, dengan cara mengirimkan teks langsung ke film fotografik yang kemudian diubah dalam piringan pencetak metal. Dengan sistem fotografi digital, tiap halaman dapat diedit dan ditempatkan secara elektronik. Proses pencetakan menjadi lebih mudah dan murah karena hanya menggunakan software komputer dan tidak lagi memahat pada mesin pencetaknya.Saat ini hampir semua jenis majalah dicetak dengan computer-to-plate technology. Di tahun 1980, kekuatan dan kecepatan pencetakan telah disatukan dalam komputer. Scanner dan software-software percetakan turut mempermudah pengguna komputer untuk membuat desain sendiri.Munculnya mesin fotokopi membuat pencetakan offset mulai ditinggalkan. Sebelum mencetak offset harus memiliki standar minimum jumlah, hal dilakukan untuk menghemat karena biaya operasionalnya sangat tinggi. Berbeda dengan mesin fotokopi, tidak perlu jumlah minimal dalam mencetak, selain itu hasil cetakannya pun mirip dengan aslinya. Selain mesin fotokopi, printer laser juga memudahkan pengguna komputer untuk mencetak halaman, teks maupun gambar, berapapun jumlahnya.Inovasi lainnya adalah custom publishing, dimana kita dapat mencetak bagian-bagian tertentu dalam sebuah buku, terutama buku-buku pelajaran. Inovasi ini dipicu kenyataan bahwa tidak semua isi buku menjadi kebutuhan sehingga ada orang-orang yang mem-fotokopi hanya bagian-bagian tertentu sebuah buku. Hal ini membuat para penerbit mencari cara untuk mengatasi bagaimana buku-buku terbitan mereka tidak diduplikasi secara ilegal oleh kios-kios fotokopi. Itulah alasan mengapa custom publishing muncul. 

 

3.     Berbagai Inovasi e-paper

Baterai dari Kertas yang Menjanjikan Desain Tanpa Batas

            Para ilmuwan AS sedang mengembangkan baterai berbahan kertas. Berbeda dari baterai konvensional yang kaku dan tebal, baterai berbahan kertas memiliki dimensi sangat tipis dan lentur. Pengguna bahkan boleh menggunting baterai tersebut dan membentuknya sesuai kebutuhan.

”Baterai kertas ini bahkan bisa ditumpuk dan direkatkan untuk memperoleh suplai daya lebih besar,” tambah profesor biologi dan kimia Rensselaer Polytechnic Institute, New York, Robert Linhardt, anggota tim pengembang baterai berbahan kertas tersebut. Tim pengembang mengungkapkan, baterai berbahan kertas ideal sebagai sumber daya peranti penyimpan data (storage) alat-alat elektronik masa depan.

Ketika menggunakan baterai berbahan kertas, alat elektronik bisa didesain setipis dan seringan mungkin. Bukan tidak mungkin, alat elektronik tersebut juga memiliki kelenturan tinggi. Para ilmuwan menjelaskan, baterai berbahan kertas ini bekerja mirip baterai Lithium-Ion konvensional, yang banyak digunakan alat-alat elektronik pada saat ini.

Namun, berbeda dari baterai Lithium-Ion konvensional yang mengandalkan kombinasi sel-sel, baterai kertas memiliki sel terintegrasi. Baterai lentur ini menggunakan kertas yang ditanami electrolyte dan carbon nanotube. Electrolyte berfungsi sebagai penyalur daya, carbon nanotube sebagai elektrode, dan kertas sebagai pemisah. Prototipe awal baterai berbahan kertas memilikidaya2,5volt.

Dengan daya sebesar itu, baterai ultra-tipis ini mampu menggerakkan kipas angin kecil atau menghidupkan lampu. Tim penemu menegaskan, baterai berbahan kertas ini bisa digunakan di berbagai jenis alat elektronik lain, termasuk komputer dan peranti komunikasi.

”Kami telah bereksperimen dengan menggabungkan sepuluh lembar baterai sekaligus. Tidak ada alasan untuk tidak bisa menggabungkan 500 lembar baterai kertas. Baterai ini bisa digulung, dilipat, dan dilengkung-lengkungkan sesuai kebutuhan. Alhasil, baterai ini menjanjikan kemungkinan desain tanpa batas,” tutur Linhardt.

Dapat pula difungsikan sebagai superkapasitor, baterai berbahan kertas ini dapat beroperasi pada suhu antara 300 derajat Fahrenheit hingga 100 derajat Fahrenheit di bawah nol. Bahan untuk memproduksi baterai tersebut tidak mahal, namun para ilmuwan sedang mencari cara untuk memproduksi massal baterai itu. Apabila sudah diproduksi massal, baterai kertas tersebut diperkirakan akan menjadi pasangan ideal display kertas elektronik, yakni teknologi display mirip LCD (liquid crystal display), namun sangat tipis dan lentur.

Produsen teknologi display LG Philips LCD Co Ltd belum lama memperkenalkan kertas elektronik berwarna berukuran A4 pertama di dunia. Kertas elektronik tersebut memiliki ukuran diagonal 14,1 inci (35,9 cm), berketebalan hanya 0,3 mm dan mampu menampilkan hingga 4.096 jenis warna. LG Philips mengungkapkan, kertas elektronik tersebut dirancang untuk beroperasi hemat daya.

 Dalam operasinya, kertas elektronik tersebut hanya menggunakan daya ketika display menyajikan perubahan gambar. ”Kertas elektronik ini merupakan teknologi display masa depan. LG Philips merupakan perusahaan pertama dunia yang mengembangkan display e-paper fleksibel berwarna berukuran A4,” tutur Chief Technology Officer/Executive Vice President LG Philips LCD Co Ltd In-Jae Chung.

LG Philips memaparkan, kertas elektronik tersebut memiliki potensi pemanfaatan sangat besar. Kertas elektronik tersebut memungkinkan para produsen elektronik memproduksi produk baru yang tidak hanya nyaman digunakan, tapi juga ramah lingkungan. Kertas elektronik tersebut dibangun dengan menempelkan Thin-Film Transistors (TFT) pada logam, bukan kaca. Karena itu, kertas elektronik tersebut menjadi lentur.

Menggunakan tinta elektronik produksi EInk Corp kertas elektronik LG Philips diklaim mampu menampilkan gambar dengan kualitas setara halaman cetak. LG Philips menambahkan, gambar yang tampil pada kertas elektronik tersebut tetap bisa terlihat jelas kendati dipandang dari sudut 180 derajat.

Firma riset spesialis industri display, Displaybank dari Korea Selatan, memperkirakan, pasar global display fleksibel akan bertumbuh menjadi USD5,9 miliar (Rp5,2 triliun) pada 2010 dan meningkat lagi menjadi USD12 miliar (Rp105,5 triliun) pada 2015. Di samping LG Philips, perusahaan yang aktif mengembangkan kertas elektronik adalah Sony Corp. Raksasa elektronik Jepang tersebut memiliki produk Reader Tablet.

Memiliki display hitam-putih, display Reader Tablet dapat dibaca di bawah terpaan langsung sinar Matahari atau di ruang berpencahayaan rendah. Display Reader Tablet bahkan dapat dilihat hampir dari setiap sudut, layaknya kertas biasa. Display Reader Tablet tidak memiliki layar back-lit sehingga display tersebut menjadi lebih hemat daya.

Perusahaan lain yang menjadi pionir kertas elektronik adalah E-Ink. Hingga saat ini, E-Ink sudah memegang lebih dari 100 paten teknologi tinta electrophoretic. Teknologi tersebut memanfaatkan arus listrik untuk menggerakkan partikel-partikel kecil guna menampilkan teks dan gambar.

 

LG Philips Kembangkan e-Paper Ukuran A4

Perusahaan pembuat layar datar asal Korea Selatan, LG Philips LCD, dilaporkan tengah mengembangkan kertas elektronik (e-paper) berwarna pertama di dunia yang berukuran A4. Kertas elektronik ini secara diagonal berukuran 14,1 inci atau sekitar 35,9 centimeter, mempunyai ketebalan 300 mikrometer (0,3 milimeter) dan dapat menampilkan hingga 4.096 warna.

Produsen layar datar terbesar kedua di dunia ini mengatakan, teknologi yang dipasang di dalam produk teranyarnya didesain untuk efisiensi energi, karena hanya menggunakan tenaga ketika tampil berubah.

“Hal ini merepresentasikan generasi terbaru dalam teknologi display,” kata Chung In-Jae, chief technology officer dan executive vice president LG Philips LCD, yang dikutip detikINET dari AFP.

Chung sesumbar, produk terbaru perusahaannya merupakan sesuatu yang luar biasa dan memungkinkan pelanggan mereka untuk menciptakan produk baru yang tidak hanya mudah saat digunakan tetapi juga dapat menghemat sumber daya alam.

Sebelumnya, LG Philips telah mengembangkan kertas elektronik fleksibel hitam putih pertama di dunia yang berukuran 10,1 inci pada Oktober 2005, dan diikuti dengan ukuran 14,1 inci pada Mei 2006.

 

 

 

 

Kertas Elektronik MicroMedia dari Lunar Design

Kertas elektronik MicroMedia mirip kertas elektronik yang pernah tampil dalam film Minority Report (sudah tersedia VCD orisinilnya). Berbeda dengan prototipe kertas elektronik lainnya yang ditujukan untuk pemuatan teks, kertas elektronik MicroMedia produksi Lunar Design yang baru diciptakan pada tahap konsep saja, adalah produk yang lebih bersifat visual. Berdasarkan konsep foto kartu pos dan foto biasa, perusahaan desain produk Lunar Design yang didirikan 21 tahun lalu di San Francisco, melahirkan konsep kertas elektronik MicroMedia yang pada dasarnya adalah digital media player. Para klien perusahaan Lunar Design termasuk perusahaan Motorola, Apple, Hewlett-Packard dan Dell.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Produk kertas elektronik ini ditujukan bagi para konsumen yang kurang mengenal produk elektronik terbaru seperti produk iPod video. Kertas elektronik MicroMedia dimaksud mudah digunakan dengan harga terjangkau. Para perancang produk ini memperkirakan bahwa kertas elektronik MicroMedia dapat dijual seharga US$ 35 (Rp. 325,675,-). Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Foto atau gambar dari video dan musik dapat di download secara wireless dengan sistim Bluetooth ke lembaran kertas elektronik MicroMedia. Anda tinggal menggunakan tombol seperti yang tersedia mesin VCR untuk memainkan gambar, melakukan fast forward dan sebaginya dengan mudah.

Kertas Elektronik Menayangkan Video

Sebelum tinta elektronik “mengering” dari e-page, kini para ilmuwan sudah akan menghadirkan generasi terbaru kertas elektronik (e-paper) yang bakal mampu menayangkan video pada layar yang dapat di gulung.

Layar komputer berwarna yang tipis dan fleksibel bagai kertas tersebut dikembangkan oleh perusahaan elektronik raksasa asal Belanda, Philips. Pengembangan teknologi terbaru e-paper itu dijelaskan oleh dua peneliti Philips dalam journal Nature.
Philips –juga perusahaan lain seperti E Ink di AS– sebelumnya telah berhasil membuat prototipe e-paper, namun kecepatan refresh-nya (kecepatan dimana mereka bisa membuat sebuah titik tampak dan tidak tampak) masih terlalu kecil. Karena berkecepatan rendah, layar ini hanya cocok digunakan untuk menayangkan gambar atau teks yang statis dan tidak berubah-ubah.

Nah, yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Philips kali ini adalah suatu layar tipis yang berkecepatan tinggi. Tim dari Philips telah menemukan teknologi baru yang dapat meningkatkan kecepatan refresh itu menggunakan efek yang disebut electrowetting. Cara ini jauh lebih berhasil dari cara sebelumnya yang memakai prinsip electrophoresis.
“Electrophoresis melibatkan partikel-partikel yang bergerak di sekitar cairan, sehingga diperlukan voltase tertentu untuk menggerakkannya,” ujar Robert Hayes, salah seorang peneliti yang mempublikasikan pekerjaan itu. “Sebaliknya dalam electrowetting, cairanlah yang bergerak di antara cairan lain, sehingga lebih cepat dibanding electrophoresis.”

 

imageBuku elektronik dan video

Karena perbedaan di atas, keduanya bakal diterapkan pada aplikasi yang berbeda. Layar warna electrowetting yang kini dikembangkan kelak akan dapat dipakai untuk memutar video dan gambar-gambar bergerak berwarna lain. Sementara layar electrophoresis yang lebih lambat akan lebih cocok digunakan pada buku elektronik dan layar petunjuk, dimana informasi di dalamnya relatif statik dan tidak cepat berubah.

Kecepatan layar electrowetting dapat dibayangkan sebagai berikut. Layar video masa kini kebanyakan mampu menayangkan 25 frame per detik sehingga bisa menyajikan gambar-gambar bergerak yang hidup. Sedangkan layar electrowetting milik Dr Hayes dan rekannya Johan Feenstra, mampu me-refresh dengan kecepatan 12 hingga 13 milidetik, atau bisa menayangkan sekitar 80 frame per detik.

Walau demikian, masih akan butuh waktu tidak sebentar sebelum Anda benar-benar bisa nonton video pada layar setipis kertas. Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah memindahkan teknologi dari laboratorium menuju prototipe, kemudian menuju produksi. “Kami bekerja untuk mengembangkan prototipe kecil. Kini kami sudah mencapai tingkatan akhir dan akan segera menghasilkan produk baru,” ujar Dr Hayes.

“Kami berharap bisa menciptakan prototipe layar hitam putih yang berukuran diagonal 2,5 sentimeter akhir tahun ini,” lanjut Dr Hayes. “Selanjutnya, memindahkan dari hitam putih ke layar warna bukan pekerjaan sulit.”

 

 

4.     Kertas Elektronik Pengganti Buku

            Sekarang ada bahan pengganti kertas yang bisa berulang-ulang dipakai untuk menulis. Resolusinya lebih baik ketimbang layar laptop. PARA pendekar lingkungan mungkin boleh berlega hati. Sebentar lagi mereka tak perlu khawatir jumlah pohon penghasil kayu akan terus menyusut karena habis ditebangi para pengusaha kertas. Sekitar selosin perusahaan di seluruh dunia saat ini tengah berlomba-lomba mengembangkan suatu material dengan fungsi dan kegunaan mirip kertas, tapi bisa ditulis ulang. Artinya, orang dapat menuliskan sesuatu di atasnya, bisa berupa teks ataupun gambar, menghapusnya, kemudian menulis lagi sampai berkali-kali pada kertas yang sama. Terdengarnya seperti cerita sebuah fiksi ilmiah. Namun, ini bukan impian lagi karena kertas semacam itu bakal ada di pasar. Apalagi konsep di balik “kertas elektronik”—atau lebih tepat “tinta elektronik”—ini sejatinya sudah berusia 20 tahun.

Awal Oktober silam, sebuah perusahaan kecil di Cambridge, Massachusetts, E Ink, dan Lucent Technologies yang bermarkas di New Jersey mengumumkan bahwa mereka tengah mengembangkan kertas elektronik. Mereka bahkan akan segera memasarkannya, mengikuti jejak Xerox dan 3M, yang Juni lalu sepakat memasarkan semacam layar digital mirip sehelai kertas.

Pada dasarnya, prinsip kerja kertas elektronik ini sama dengan buku elektronik (e-book), yang juga sudah banyak beredar di pasaran. Hanya, tak seperti buku elektronik, yang menggunakan liquid crystal display (LCD) sebagai layar, kertas elektronik memakai permukaannya sendiri sebagai layar. Isi kertas, sama halnya dengan e-book, juga dapat diganti dengan pelbagai informasi lain. Kertas elektronik juga membutuhkan sumber daya dari baterai atau listrik agar dapat beroperasi.

Ada persamaan sekaligus perbedaan antara teknologi yang dikembangkan E Ink dan Xerox. Keduanya, misalnya, sama-sama menggunakan semacam bola kecil (atau manik-manik) yang dimasukkan (embedded) pada bahan mirip kertas tadi. Dengan satu sentuhan tombol, bola tadi berubah-ubah warnanya, hitam dan putih berganti-ganti, atau pemakai dapat mengganti teks dengan gambar. Hanya, para pengamat elektronik mengkritik, proses perubahan itu untuk sementara belum sempurna. Bila layar dimatikan, ada bayang-bayang gambar terakhir yang masih tertinggal.

Adapun perbedaannya terletak pada teknik yang dipakai. Teknologi Xerox dikembangkan oleh Nicholas Sheridon, seorang periset di perusahaan riset Xerox Parc di Lembah Silikon. Teknik ciptaan Sheridon disebut Gyricon—dari bahasa Yunani, “gyro”, yang artinya berotasi. Gyricon menggunakan semacam manik-manik yang berdiameter sepersepuluh milimeter. Setiap manik-manik punya dua warna, hitam dan putih. Kedua sisi manik-manik dipisahkan oleh arus listrik positif dan negatif. Bila listrik mengalir, manik-manik akan berputar sehingga seperti berubah-ubah warnanya, yang hitam jadi putih atau sebaliknya.

Manik-manik dimasukkan ke dalam “kertas” yang sebetulnya merupakan karet silikon. Manik-manik bisa berada di dalam karet itu dengan cara begini. Mula-mula disiapkan karet cair, yang kemudian ditebari manik-manik. Begitu manik-manik tersebar di seluruh permukaan dan karet mengeras menjadi lembaran, lalu dilapisi film tipis dan dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Lembaran tadi kemudian direndam dalam minyak. Minyak akan merembes masuk ke karet dan membentuk semacam pori-pori di sekitar manik-manik. Pori-pori ini nantinya diisi minyak sehingga memungkinkan manik-manik bergerak bebas.

E Ink, sebaliknya, mengganti manik-manik dengan kapsul plastik kecil ciptaan Joseph Jacobson, peneliti di Massachusetts Institute of Technology (Media Lab). Kapsul ini diameternya juga cuma sepersepuluh milimeter, berisi tinta hitam dan partikel cat putih. Cat putih berfungsi sebagai pembawa arus positif. Adapun elektroda (arus negatif) ditempatkan di belakang kapsul sehingga dapat menarik atau menolak partikel. Bila partikel didorong ke atas kapsul, warnanya berubah putih. Sebaliknya, jika ditarik ke bawah, ganti berwarna hitam. Begitu seterusnya.

Dengan prinsip kerja mengubah-ubah warna permukaan itulah, kertas seperti dapat dipakai berulang kali (rewriting). Namun, seorang pengamat, seperti dikutip majalah The Economist, memperkirakan hasil yang dicapai kertas elektronik belum mampu menyamai kualitas kertas biasa. Dr. Sheridon dan koleganya sebetulnya sudah punya prototipe yang sanggup menampilkan resolusi gambar lebih dari 80 titik per sentimeter. Ini berarti dua kali lebih baik ketimbang kualitas resolusi laptop pada umumnya, atau cuma setengah kualitas mesin cetak laser. Dalam waktu dekat, para ilmuwan itu berharap kualitas ciptaan mereka bakal lebih baik dari sekarang.

 

5.     Perkembangan e-paper di Masyarakat

Era paperless abad ke-21, sebuah era di mana kertas sudah tidak terlalu diperlukan lagi dalam dokumentasi. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, setiap institusi mulai merambah apa yang disebut dengan e-document.

Noerrachman Saleh, Konsultan Dokumen Astragraphia menjelaskan bahwa kebutuhan akan e-document di masa kini sudah tidak terelakkan lagi. ”Orang lebih suka menyimpan data secara elektronik sebab pengolahannya lebih mudah. Selain itu problem sampah kertas dan keterbatasan tempat penyimpanan juga menjadi alasan tersendiri,” jelas Noer dalam sebuah seminar di Tasikmalaya Rabu petang (3/4).

Segala jenis pengetahuan di dunia ini pada dasarnya tersimpan pada tempatnya masing-masing. Sebagian besar, yaitu 42 persen, tersimpan dalam otak manusia. Lalu sebanyak 24 persen tersimpan dalam bentuk dokumen kertas. Baru disusul dalam bentuk dokumen elektronik sebesar 22 persen. Terakhir, ada pengetahuan yang ditampung dalam elektronik database, yaitu sebesar 12 persen. Demikian data yang dihimpun Delphi tahun 1997.

Metode konvensional mengenalkan kita pada penyimpanan data dengan buku atau kertas. Diawali dengan perpustakaan tradisional, yaitu kumpulan buku tanpa katalog. Berkembang kemudian menjadi perpustakaan semi modern, di mana katalog dilakukan secara manual. Lalu ada pula katalog secara komputer.

Di era TI, lahir yang disebut dengan perpustakaan digital. Lalu yang paling canggih adalah perpustakaan virtual, ketika semua koleksi buku bisa diakses melalui internet.Yang terakhir ini bukan lagi sekedar konsep, melainkan sudah menjadi kenyataan. Sudah cukup banyak perpustakaan online di negara maju.

Untuk menuju ke arah perpustakaan virtual ini, terlebih dulu kita harus mengenal teknologi bagaimana dokumen pada sehelai kertas bisa diolah menjadi database komputer. Secara teknis, proses terciptanya sebuah e-document tidak terlalu rumit. Manfaat dari e-document salah satunya adalah minimalisasi tempat. Bayangkan, setumpukan data atau buku bisa dirangkum menjadi sebuah disket kecil.

Noer menjelaskan bagaimana proses ini berjalan. Pertama, semua dokumentasi kertas melalui sistem scanning untuk bisa ditampakan dalam komputer. Dari sini bisa diolah lagi mana dokumen yang benar-benar penting atau tidak. Klasifikasi ini disebut dengan sistem verification. Dari sini menuju ke proses index, yaitu pengelompokan daftar isi yang ditujukan untuk memudahkan pencarian data. Dalam indexing ini dilakukan kategorisasi berupa tipe dokumen, tanggal, nama pembuat serta kata kunci. Noer menjelaskan dalam sistem indexing bisa dilakukan dengan metode manual atau otomatis. Ada lagi sistem aplikasi indexing dengan Optical Character Reader (OCR). Dengan aplikasi ini maka kita bisa mencari kata per kata data dalam file yang dimaksud.

Setelah itu barulah di-release dalam bentuk disket atau CD ROM maupun hard disk. Pada bentuk terakhir, data bisa diformat dalam bentuk HTML, Acrobat, Word atau ASCII.
”Walaupun ada yang optimis dengan paperless, ada pula yang tidak. Pada kenyataannya jumlah kertas di dunia ini terus meningkat. Ini membuktikan bahwa informasi sudah sedemikian membanjir, baik yang tersimpan secara elektronik maupun kertas,” kata Noer.

 

5.1   Surat Kabar di Masa Depan

            Di masa depan, koran elektronik akan menggantikan koran yang biasa kita kenal. Sekarang pun inovasi baru penyajian berita sudah bisa dinikmati konsumen. Bill Gates tidak percaya bahwa era koran konvensional akan berakhir. “Dalam kurun waktu 50 tahun mendatang masih akan ada orang yang mencetak dan menjual koran media kertas.

Akan tetapi seorang visioner berpendapat lain. Dalam film fiksi ilmiah “Minority Report”, Steven Spielberg mengganti harian “USA Today” dengan sebuah display transparan, di mana teks dan gambar dapat ditampilkan. Film Hollywood “Minority Report” bersetting tahun 2054, tidak sampai 50 tahun dari sekarang. Apakah Bill Gates terlalu pesimis menatap masa depan koran? Ataukah Spielberg yang pe­nuh fantasi hanya mengambil seporsi kebebasan kreatif?

Sekarang ini para penerbit koran sudah mulai menawarkan media baru kepada pembacanya, misalnya dengan apa yang mereka sebut “tinta elektronik”. Teknologi dasarnya dikembangkan di lab media MIT dan dipasarkan oleh E-Ink. Inovasi ini merupakan jalan bebas hambatan menuju visi Spielberg. Akan tetapi Bill Gates mengakui bahwa dunia media sedang berubah. “Setiap publikasi kini harus memikirkan strategi digital-nya masing-masing”. Ia menambahkan bahwa saat ini semakin banyak orang muda yang memilih media elektronik daripada koran biasa.

Selama ini alternatif yang ada terbatas pada versi elektronik yang dibaca pada PC, misalnya dalam format PDF atau website portal news koran dan majalah di Internet. Perangkat bergerak seperti e-book reader ternyata tidak mampu menggantikan surat kabar.

6.     Perpustakaan Digital

            Astragraphia merupakan usaha jasa dokumentasi digital yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dalam mengembangkan proyek Warung Informasi dan Teknologi (Warintek).

Sejak tahun 2000 mereka mengolah data dan koneksi Warintek antara Sentra Informasi Perpustakaan Digital Iptek Nasional dengan sejumlah perguruan tinggi dan pengguna umum Warintek. Salah satunya adalah Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya, Jawa Barat.

Warintek Unsil yang berdiri resmi pada Juni 2001 ini merupakan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh KRT dengan cara menyediakan fasilitas TI. Perpustakaan Unsil sendiri bisa dikategorikan sebagai perpustakaan digital, di mana sistem katalognya telah dilakukan dengan komputer.

Menurut Drs. Yoni Dharmawan, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Perpustakaan Unsil yang membawahi Warintek, selain menyediakan sarana TI mereka juga mempunyai beberapa program.

”Kami mengadakan pelatihan staf perpustakaan untuk materi CDS/ISIS selama satu minggu. Instrukturnya berasal dari Institut Pertanian Bogor (IBP). Materinya meliputi pembuatan basis data baru, pemasukan data, penyuntingan data, penelusuran data, pembuatan file dan pencetakan,” jelas Yoni.

Program lain adalah pengembangan basis data koleksi perpustakaan dan katalog online. Di sini, staf perpustakaan diharap bisa membangun basis data koleksi yang nantinya akan disediakan kepada masyarakat dalam bentuk katalog komputer. Pembimbing dan instrukturnya berasal dari IPB. Saat ini sudah terbangun basis data sebanyak 2400 entri. Penambahan terus dilakukan oleh staf perpustakaan dengan laju penambahan rata-rata 100 entri per minggu.

Program berikut adalah pelatihan browsing internet dan email. Staf perpustakaan dan Warintek dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan internet agar bisa melayani masyarakat pengguna dengan baik.Yoni juga menyebut adanya program pengembangan basis data teknologi tepat guna, pelatihan internet bagi dosen, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Menurut penuturan Roni, petugas Warintek Unsil, pengunjung Warintek lumayan ramai. ”Setiap saat selalu saja ada yang datang, baik dari mahasiswa maupun orang luar,” ungkap pemuda yang sudah lima tahun bekerja di Unsil. Dengan membayar ongkos sewa 4000 rupiah per jam, semua orang bisa mengakses internet dan informasi dari CD ROM yang tersedia.

Namun Roni menekankan bahwa Indonesia belum bisa sepenuhnya paperless. Terbukti, mahasiswa di kampus Unsil masih tetap membutuhkan buku-buku konvensional.

 

7.     Membangun Perpustakaan Elektronik dengan BOCSoft eQuestion

Penyebaran ilmu pengetahuan ke seluruh pelosok tanah air yang dituangkan dalam kertas dan buku sangat lambat karena bentuk fisiknya. Hal itu sudah bisa diatasi sejak ditemukannya internet dan buku elektronik (ebook). Pengetahuan dituangkan dalam file “flat” dengan bermacam-macam format seperti .pdf, .doc, atau yang paling sederhana adalah .txt.

Tetapi dengan semakin banyaknya pengetahuan yang tersebar dalam file-file flat tersebut, ditambah lagi tersedianya berbagai macam format dokumen elektronik, masalah kembali muncul yaitu sulitnya pengorganisasian, membuat pertanyaan, membuat dokumen ebook, kecepatan pencarian ulang, dan mengatur pengetahuan dalam file-file flat yang berbeda format dalam jumlah banyak ke dalam satu wadah yang sederhana.

Ide untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan dari sumber-sumber yang berbeda ke dalam satu wadah berusaha dipecahkan oleh BOCSoft, mitra terdaftar Microsoft. Akhirnya lahirlah BOCSoft eQuestion yang dikembangkan selama hampir dua tahun.

BOCSoft eQuestion adalah aplikasi database manajemen pengetahuan dalam bentuk “relational database” yang dapat digunakan untuk belajar di rumah, di sekolah dan di perusahaan.

Keuntungan menyimpan pengetahuan dalam database BOCSoft eQuestion adalah:

Hemat uang :

Satu keping DVD mampu menyimpan kumpulan soal setara dengan 555 kg kertas sehingga menghemat kertas dan tinta untuk mencetak.

 

 

Hemat waktu:

Guru-guru dapat menggunakan waktunya lebih produktif dengan meringkas mata pelajaran. Ringkasan mata pelajaran bisa digunakan ulang untuk tahun ajaran berikutnya sehingga tidak perlu membuat ulang dari awal kecuali melakukan revisi, yang bisa dilakukan dengan cepat dan mudah karena pengetahuan disimpan dalam satu tempat yaitu database BOCSoft eQuestion.

Belajar Cepat:

Mempelajari ilmu pengetahuan langsung dari pertanyaan-pertanyaan dan pembahasannya adalah salah satu teknik belajar cepat yang dapat diterapkan dan dapat meningkatkan keingintahuan peserta didik. Filosopi dari BOCSoft eQuestion adalah AIM, CURIOSITY, SPEED. Bidik apa yang ingin diketahui, kembangkan keingintahuan dan dapatkan pengetahuan dengan cepat.

Perpustakaan:

Kumpulan pengetahuan disimpan di laboratorium komputer sekolah yang bisa diakses oleh siswa untuk bahan belajar. Jika telah tersedia kumpulan pengetahuan dalam bentuk database BOCSoft eQuestion maka sekolah telah mempunyai perpustakaan elektronik yang jauh lebih menyenangkan bagi murid untuk belajar.

Kerjasama dan Kecepatan:

Jika sekolah-sekolah dapat saling bertukar database, maka perpustakaan elektronik akan tumbuh besar dan lengkap dalam waktu yang cepat.

Bayangkan skenario ini:

Jika terdapat 100 sekolah yang masing-masing memiliki kumpulan database pengetahuan dan saling bertukar database, maka dalam tempo singkat mereka telah membangun perpustakaan elektronik yang besar.

Fleksibilitas yang ada dalam “relational database” memungkinkan kita menggabungkan isi dari satu database dengan database lainnya. Hal ini tidak mungkin dilakukan pada format elektronik seperti .txt, .pdf atau format dokumen lainnya, apalagi menggunakan kertas seperti pada buku.

Untuk kepentingan yang jauh lebih besar, mudah-mudahan institusi pendidikan tidak hanya bisa berkompetisi tetapi juga bisa berkolaborasi untuk saling berbagi sehingga mereka yang mempunyai keunggulan SDM dalam bidang ilmu tertentu dapat menularkannya kepada SDM sekolah-sekolah yang lain.

Berbagi Pengetahuan:

Bagaimana dampaknya bila kumpulan-kumpulan pengetahuan tersebut ditempatkan dalam suatu situs internet agar bisa diakses oleh masyarakat luas. Akan tersedia kumpulan pengetahuan yang besar, lebih menyenangkan untuk belajar dan lebih murah didapat. Ini akan membantu sekali untuk percepatan belajar dan mengajar.

Institusi pendidikan baik formal maupun informal mempunyai peran yang besar dalam mengembangkan perpustakaan elektronik, baik untuk lingkungan sendiri maupun untuk masyarakat luas. Hal ini dimungkinkan karena institusi tersebut didukung oleh SDM (sumber daya manusia) yang memang mempunyai pengetahuan untuk bahan mengajar dan belajar. Bukan hanya institusi pendidikan yang bisa berperan dalam membangun perpustakaan elektronik dengan BOCSoft eQuestion. Individu profesional yang mempunyai pengetahuan tertentu dapat juga ikut berpartisipasi dalam mewujudkan ketersediaan perpustakaan elektronik yang berkualitas, mudah didapat dan relatif lebih murah.

 

8.     Kertas Elektronik Semakin Nyata

Ada tantangan lain untuk produk buku elektronik di Amerika Serikat dan Eropa, yaitu jumlah buku yang tersedia untuk di download tergolong sedikit. E Ink Corp bersama Massachusetts Institute of Technology berupaya merealisasikan perpustakaan buku yang bisa dibawa ke mana saja.Upaya ini melengkapi impian mereka membuat perpustakaan online yang sudah direalisasikan perusahaan Internet. Bentuk portable perpustakaan Internet ini akan dimodifikasi menyerupai buku kertas, tetapi punya kemampuan browse seperti Internet.

”Sembilan perusahaan berbeda meluncurkan produknya tahun lalu. Tetapi dalam tempo sembilan bulan terakhir, kami telah menyelesaikan 10 ribu hingga jutaan bagian,” ungkap Presiden E Ink Russell Wilcox. Di antara produk tersebut, buku elektronik Sony 6758 T Reader yang masih bertampilan hitam-putih dan bisa dibaca dalam ruangan terang maupun temaram dari hampir setiap sudut layaknya kertas bacaan. Produk ini sudah tidak dilengkapi layar back-lit yang boros energi. Saat layar tampilan semakin bisa disesuaikan dan semakin hemat energi, produk mereka menghadapi keterbatasan karena hanya menampilkan dalam bentuk monochrome dan tidak dalam bentuk video.Tampilan video adalah daya jual kepada pihak pengiklan dan daya tarik konsumen teknologi. Wilcox memberikan bocoran bahwa E Ink akan menguji coba model warna yang bisa diluncurkan tahun depan.

Jika berhasil, harapan menciptakan majalah dan koran elektronik sudah di depan mata.Perusahaan E Ink mencatat pendapatan mereka tumbuh 200–300% setiap tahunnya, dalam tiga tahun terakhir ini. Pemimpin perusahaan E Ink Kenneth Bronfin yang juga presiden perusahaan interaktif media divisi Hearst Corp, telah menerbitkan 12 koran harian dan 19 majalah, termasuk Cosmopolitan. Kenneth semakin menancapkan dominasinya dalam bisnis media dengan keberhasilan uji coba nanti. E Ink memiliki hak paten terhadap 100 ”elektrophoretic”, alat yang mengirimkan listrik ke jaringan yang terdapat di kertas elektronik hemat daya hingga 99 %. Alat ini mampu membuat partikel hitam dan putih bergerak ke atas dan ke bawah, menghasilkan gambar dan tulisan. Alat ini juga digunakan Motofone, Motorola Corp perusahaan ponsel dan perusahaan jam tangan Seiko Epson Corp yang memiliki flash memory stick dan beberapa peralatan lain.

Kemampuannya menghemat daya menyebabkan kedua perusahaan bisa menekan biaya produksi. Menurut analis dari Forrester Research James McQuivey, E Ink membutuhkan lompatan teknologi pengguna warna dan kemampuan menampilkan video sebelum diproduksi massal. Jika berhasil, E Ink tidak lagi menggunakan liquid crystal display (LCD) yang lazim dan mampu merevolusi mainstream media dan membaca. Industri papan iklan, misalnya, tidak membutuhkan lagi memakan biaya besar untuk pendiriannya.

Dengan temuan ini, maka akan tersedia papan iklan elektronik yang bisa digantung di mana saja atau dilipat ke dalam kantong mobil yang mudah dibawa. ”Sangat jelas, kemunculan teknologi ini akan merevolusi banyak penggunaan bentuk tampilan layar dalam kehidupan kita dan bisa diterapkan di beberapa tempat yang belum pernah ada atau seharusnya ada,” papar McQuivey. Ada tantangan lain untuk produk buku elektronik di Amerika Serikat dan Eropa, yaitu jumlah buku yang tersedia untuk di download tergolong sedikit.

Sony menyadari akan mengubah konsumen karena penggunaan suatu alat yang bisa menyimpan ratusan judul dan seperti Internet, yang mudah untuk di-download. Manager Produk dari Sony Reader David Seperson mengungkapkan,” Kami melihat pertumbuhan nyata dalam bidang teks digital, lebih banyak lagi yang bisa online dari produk Amazon dan lainnya”. Ada pergantian mengenai budaya membaca dari masyarakat yang bermula pada buku konvensional,sekarang ada blog dan segala jenis Internet. Kali ini, jika berjalan lancar, ketiga jenis itu bisa dibawa sekaligus ke pantai atau tempat lain untuk menikmati bacaan.

 


 


           

 

 

 

One thought on “ELECTRONIC MAGAZINE

  1. I’ve been surfing online more than 2 hours today, yet I never found any interesting article like yours. It’s pretty worth
    enough for me. Personally, if all website owners and bloggers made good content as you did, the internet will
    be much more useful than ever before.|
    I could not resist commenting. Well written!|
    cheers for the advice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s