KAMERA DIGITAL

KAMERA DIGITAL, Pocket Masih Menguasai Pasar

Kamera digital telah menjadi tren tersendiri di dunia fotografi. Sebuah pasar menggiurkan yang sayang dilewatkan oleh para produsen kamera. Mereka pun berlomba merilis produk yang semakin canggih.

SEIRING perkembangan jaman dan teknologi yang pesat, manusia cenderung ingin melakukan sesuatu dengan cepat dan praktis. Tak terkecuali di dunia fotografi. Munculnya kamera digital telah membuat proses pengabadian momen lebih praktis. Di era digital seperti sekarang, banyak produk kamera yang menawarkan fitur-fitur menarik. Kamera digital mempunyai jenis yang bermacam-macam dan fitur yang diciptakan memenuhi kebutuhan kita. Berbagai macam merek yang bisa kita jumpai di pasar. Kodak, Nikon, Canon, Casio, Samsung, dan merek lain merupakan nama-nama yang sudah tidak asing di telinga kita. Pada dasarnya kamera digital adalah sebuah alat yang memudahkan manusia dalam proses dokumentasi.

Sifatnya pribadi, namun bisa juga di ekspansi ke komersial. Kamera digital dibagi menjadi tiga jenis. Pertama adalah kamera pocket, proconsumer, dan digital kamera single-lens reflex (SLR). Kamera pocket saat ini telah menjadi bagian hidup manusia. Kedua, kamera proconsumer. Jenis kamera ini adalah k a m e r a yang memiliki fitur yang lebih banyak dibandingkan kamera pocket, tetapi memiliki fixed lens. Artinya, kamera ini hanya memiliki satu lensa dan tidak bisa diganti. Yang terakhir adalah jenis kamera digital SLR. Kamera ini biasanya digunakan oleh fotografer profesional. Fitur yang lengkap untuk memilih speed, diafragma, ISO, dan lainnya. Ada berbagai jenis kamera digital yang terdapat di pasaran, seperti NIKON D100, Canon EOS 350D, dan merek-merek lainnya.

Kamera ini merupakan perkembangan kamera analog yang telah memiliki LCD sehingga tidak lagi memerlukan film untuk menangkap gambar yang ditangkap lensa kamera. Bagi orang awam, kamera digital pocket sudah menjadi kebutuhan. Selain lebih mudah dan murah, banyak fitur pendukung yang terdapat pada kamera digital pocket. Kamera digital saat ini telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, khususnya di kota besar. Kamera digital pocketmasih merupakan pasar terbesar di Indonesia, jelas pengamat teknologi Sylvester Samintiarto. Saat ini resolusi gambar yang dihasilkan oleh kamera pocket sangat baik. Besarnya resolusi yang ditawarkan beberapa produsen kamera digital berkisar antara 1,3 hingga 10 megapixel. Biasanya, dalam satu kamera tersedia pilihan resolusi yang berbeda. Jadi, pilihan besarnya resolusi gambar yang di hasilkan tergantung dari kebutuhan kita.

Selain dapat mengabadikan gambar diam, beberapa kamera digital memiliki fitur untuk dapat merekam gambar bergerak (video). Memang sudah pasti hasil yang dihasilkan video oleh kamera digital tidak akan sebaik gambar diam. Sebab, pada dasarnya kamera ini memang didesain untuk memaksimalkan hasil gambar diam. Ada beberapa kamera juga memiliki fitur untuk merekam suara, biasanya jenis kamera dengan pilihan fitur ini

digunakan rekan wartawan un- tuk mengefisienkan tugasnya. Samuel Sunanto, fotografer profesional, mengatakan, Ada tiga kriteria saat saya memilih kamera. Pertama, kualitas ini berhubungan dengan teknologi yang memadai. Kedua, grip (pegangan). Sebab, pekerjaan saya harus selalu berhubungan dengan kamera setiap saat membuat pegangan kamera harus nyaman agar tidak mudah lelah. Yang terakhir, daya tahan terhadap cuaca. Sebab, kamera ini merupakan barang yang sensitifâ. Perbedaan latar belakang seseorang membuat kebutuhan berbeda sehingga memilih kamera digital berdasarkan kebutuhannya.

Kamera digital juga diciptakan dengan berbagai ukuran, bentuk, dan warna yang menarik. Ini hanya masalah selera dan visual yang bisa membuat kemasanâ lebih menarik konsumen. Dalam perkembangannya, tren kamera digital nampaknya akan mengalami pergeseran pada beberapa tahun mendatang. Kamera SLR diprediksi dalam satu atau dua tahun ke depan akan menguasai pasar, jelas Rusdy Latif, Director PT Alta Nikindo (Nikon Indonsesia). Perubahan ini nantinya akan mengulang pada jaman analog (sebelum era digital). Di saat kebanyakan orang cenderung memilih kamera SLR dibandingkan kamera pocketkarena dengan harga yang tidak terlalu jauh, tetapi memiliki kuantitas jauh dibanding kamera pocket. Ini hanya prediksi, untuk perkembangan kamera digital masih di tetapkan oleh permintaan.

 

 

 

 

 

Kamera Digital Bisa Internet


Telepon seluler berkamera? Pasti Anda sudah terbiasa mendengarnya. Tapi bagaimana dengan kamera yang mampu “bermain-main” di jaringan ponsel? Ini dia yang masih jarang. Baru-baru ini, Samsung Techwin, salah satu anak perusahaan Samsung Group, meluncurkan sebuah kamera digital 7 megapiksel yang dapat digunakan untuk berselancar di Internet.
Kamera digital yang diberi nama Samsung VLUU i70 itu memang tak bisa digunakan untuk bercakap-cakap layaknya sebuah telepon seluler. Namun, pemancar high speed downlink packet access (HSDPA) yang ditanam di dalamnya membuat kamera ini dapat mengakses data lewat jaringan pita lebar 3GSM, melalui protokol HSDPA.

Dengan demikian, kamera ini dapat dipakai untuk menerima dan mengirim pesan pendek (SMS), mengunduh (download), ataupun mengunggah (upload) file digital dari atau ke web.

Tak hanya itu, kamera ini juga dapat menjadi pemutar media, sehingga Anda bisa mendengarkan musik dari koleksi-koleksi lagu berformat MP3 yang tersimpan di media penyimpanan eksternal.

Sesuai dengan “kodrat”-nya sebagai kamera digital, desain VLUU i70 lebih mirip sebuah kamera digital ketimbang sebuah ponsel atau pemutar media portabel (portable media player), yang biasanya dirancang vertikal. Namun, desain VLUU i70 tetap mirip dengan ponsel karena memiliki form factor geser.

Ia menggunakan display layar kristal cair 3 inci (7,6 sentimeter). Gambar yang dihasilkan VLUU i70 memiliki resolusi 7,2 megapiksel dengan pembesaran optis hingga 3 kali. Lalu apa bedanya dengan kualitas gambar yang dihasilkan ponsel kamera biasa? Terlebih lagi Samsung sudah meluncurkan ponsel kamera 7 megapiksel (Samsung SCH-V770), bahkan ponsel kamera 10 megapiksel (Samsung SCH-B600).

Tentu saja, karena peranti ini bukan hanya ponsel kamera, melainkan juga kamera digital betulan dengan beberapa fitur yang tidak dimiliki oleh SCH-V770 atau SCH-B600. VLUU i70 menggunakan sensor Charge Couple Device jenis 1/2,5 inci yang, diklaim Samsung, mampu menghasilkan standar sensitivitas cahaya tinggi, yaitu ISO 1600.

Ia juga menggunakan teknologi advanced shake reduction untuk melakukan koreksi terhadap guncangan yang terjadi saat pengambilan gambar. Selain itu, VLUU i70 memiliki kemampuan face recognition auto-focus dan auto-exposure, sehingga wajah obyek yang difoto akan selalu terlihat lebih jelas.

Untuk masalah video, kamera ini dapat merekam gambar video dalam format MPEG-4 dengan kecepatan rekam 30 frame per detik. Setelah Anda memotret atau merekam video dengan VLUU i70, hasilnya dapat diunggah dengan cepat, misalnya ke situs jejaring sosial Friendster atau situs video YouTube.

Pasalnya, HSDPA memang menjanjikan waktu unggah dan unduh yang lebih cepat dibanding 3GSM atau universal mobile telecommunications system, yaitu 1,8-3,6 megabit per detik. Sayangnya, kamera ini memang tak bisa digunakan untuk menelepon. Tapi, boleh jadi, hal itulah yang menjadikan VLUU i70 berbeda dari ponsel kamera.

 

Kamera Digital Semakin Jamak

Kamera digital dewasa ini bukan lagi menjadi barang asing oleh orang banyak. Boleh dibilang kamera “pintar” ini sudah jamak. Bahkan kehadirannya seolah tidak terbendung lagi kehadirannya. Menariknya, fotografer profesional dunia yang pada awalnya kurang berminat pada kamera digital dengan alasan kemungkinan penipuan dengan berbagai manipulasi di komputernya, kini mereka telah menggunakan fotografi digital. Luar biasanya, mereka melakukan industri dari hulu ke hilir dari proses pemotretan sampai ke penjualan.

Geliat fotografi digital dimulai pada awal 90-an. Fotografi memasuki era baru dengan adanya kamera digital. Kamera digital pertama diproduksi oleh kodak yaitu DCS 100 (Digital Camera System 100) yang ditempelkan pada bagian belakang Nikon F-3 sehingga imaji yang biasa ditangkap oleh film, ditangkap oleh sebuah keping yang menerjemahkan imaji itu ke dalam data digital.

Fotografi digital menjadi mungkin dengan adanya sistem digital yang mendukung seperti kamera digital, disket dan perangkat komputer beserta program-programnya (Adobe Photoshop, Aldus Photostyler, Correl Photopaint dll).

Perbedaan yang sangat mencolok antara kamera digital dan kamera film atau konvensional adalah tidak diperlukannya film bagi kamera digital. Karena semua prosesnya terkomputerisasi maka seorang fotografer hanya perlu membawa memory card saja.

Dinamakan kamera digital karena pada setiap prosesnya menggunakan angka-angka (digit) yaitu angka 0-1 yang hanya bisa dimengerti oleh komputer.

Meskipun pada awalnya fotografi digital kurang diminati oleh fotografer profesional, dengan alasan fotografi digital adalah penipuan dengan berbagai manipulasinya di komputer, fotografi digital sesungguhnya memiliki konsep dasar serupa dengan fotografi konvensional.

Hukum-hukum fotografi yang menyangkut masalah optik tentang bukaan diafragma ataupun ruang cahaya tidak berubah. Terlepas dari kecanggihan yang ditawarkan oleh fotografi digital, ia adalah sebuah alat yang dibuat oleh manusia dan tanggung jawab penggunaannya ada di tangan manusia itu sendiri.

Untuk hal-hal yang berupa fakta, seperti kondisi sosial ekonomi masyarakat, tentulah manipulasinya sangat terbatas. Akan tetapi untuk hal-hal yang berupa ilustrasi dan bukan fakta dapatlah dilakukan, tentu saja tetap mengacu pada kode etik yang berlaku.

Keuntungan dari fotografi digital adalah kemampuannya menghasilkan gambar dalam waktu relatif cepat dibandingkan metode konvensional, menyimpan gambar dalam jangka waktu lama. Selain itu, misalnya bagi keluarga yang mengadakan wisata sambil melakukan pemotretan dengan kamera digital, gambarnya dapat dilihat langsung dengan menggunakan kabel dihubungkan ke TV.

Tidak diperlukannya kamar gelap untuk pemrosesan foto. Cukup seperangkat pada kondisi ruang dengan pencahayaan biasa. Pun dengan masalah keakuratan data maka fotografi digital sangatlah akurat , karena imaji yang direkam dalam sebuah memory card dapat direkam berulang-ulang tanpa mengalami kerusakan.

Di dalam dunia pendidikan, fotografi digital akan sangat membantu. Misalnya untuk mengajarkan cara membidik, paling cuma butuh waktu 5 menit saja. Hasil gambarnya dapat dilihat langsung dan kalau tidak suka bisa dihapus dan mengulanginya lagi. Foto digital murni adalah foto yang sejak pemotretan, pemrosesan sampai penyimpanannya memakai sarana digital murni.

Seperti kamera digital untuk pemotretan, memory card untuk menyimpan data berupa imaji, hard disk atau juga optical disk, dan program komputer untuk mengolah data. Teknologi pengolahan fotografi digital sendiri telah ada sebelumnya yaitu mengubah film dari kamera konvensional menjadi data digital.

Hal yang mempengaruhi kualitas kehalusan gambar itu sangat berkaitan dengan resolusi gambar yang dihasilkan. Kehalusan gambar atau resolusi gambar sampai saat ini menggunakan dua ukuran, yaitu DPI (Dot Per Inch) dan Pixel (picture element).

Proses pencetakan suatu gambar sesungguhnya berasal dari gabungan titik amat kecil tidak terlihat oleh mata biasa. Sampai saat ini kemampuan resolusi rekaman kamera digital sudah cukup tinggi. Untuk kelas kompak saja misalnya sudah ada yang mencapai 8 juta pixel pada setiap gambarnya.

Dalam perkembangan kamera digital itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu lowend (kamera dengan resolusi rendah) dan High end (kamera resolusi tinggi sejenis SLR) maka fokus produksi kamera digital lebih banyak bertuimpu pada jenis low-end.

Kodak adalah pionir produsen kamera digital pertama yang telah merintis usahanya bersama dengan Nikon sejak tahun 1990-an. Yaitu dengan menempelkan Kodak DCS-100 pada kamera Nikon F-3, selama lima tahun berturut-turut produk ini belum ada yang menyaingi.

Diikuti kemudian (1995) oleh produsen kamera lain yang mulai berlomba-lomba memproduksi kamera digital. Canon misalnya memproduksi Canon EOS DCS 3 dengan resolusi 1268x 1012 pixel, kepekaannya berkisar antara ISO 200 sampai ISO 1600. Pada tahun yang sama Kodak yang bekerja sama dengan Nikon mengeluarkan Kodak DCS 420 dan DCS 460 yang dipasangkan di kamera Nikon N90.

Sementara itu Fuji yang bekerja sama dengan Nikon mengklaim telah berhasil memproduksi kamera digital pertama bagi para profesional yang murni tanpa film, yaitu kamera Fuji-Nikon E2. Proses penangkapan imajinya melalui kartu PMCIA (Personal Computer Memory Card International Association). Resolusi yang ditawarkan sama dengan Kodak DCS 100 yaitu 1,3 juta pixels.

Diawal perkembangan kamera digital, kebanyakan produsen melakukan kerja sama dalam pembuatan kamera. Hal ini dikarenakan ada perusahaan kamera yang mampu membuat imaji dari sarana optis sementara produsen lain memilki kemampuan dalam mengolah data digital.

Kini masalah itu sudah teratasi. Itu terlihat dari perkembangan kamera yang semakin marak khususnya untuk jenis kamera di kelas kompak, bukan SLR. Hebatnya, Olympus Mju- 800 misalnya, meski berjenis kamera kompak tapi berkemampuan resolusi tertinggi di kelasnya, yaitu 8 juta pixels maka mencetak foto di atas ukuran 10 R sekalipun, kualitasnya tetap baik.

Demikian pula halnya dengan kamera SLR. Persaingannya pun tidak kalah serunya. Para produsen kamera dunia, seperti Canon, Nikon, Konica Minolta, dan Olympus masing-masing saling menawarkan keunggulan fitur-fitur yang melekat di kamera. Bahkan Konica Minolta mengklaim sebagai pelopor kamera digital berteknologi Anti Shake.

Maraknya kamera digital juga telah berakibat pada perang harga. Dulu orang berpikir dua kali untuk membeli kamera digital. Namun sekarang dengan uang Rp I juta lebih sudah bisa membawa pulang kamera digital jenis kompak. Bahkan dewasa ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung serta Medan, di sana kamera digital keberadaanya sudah begitu familiar.

Lagi, soal resolusi masih merupakan “senjata pamungkas” bagi produsen kamera untuk memikat konsumen. Produsen kamera bersaing menciptakan kamera digital dengan resolusi yang lebih tinggi lagi dan tentunya dengan harga yang terjangkau kocek konsumen. Demikian pula dengan konsumen, dalam persaingan pasar seperti itu dibutuhkan kejelian dalam memilih kamera tentunya disesuaikan dengan kebutuhan.


Pertimbangan Membeli Kamera Pocket Digital

Kamera, alat yang digunakan untuk merekam image yang digunakan untuk berbagai macam tujuan, baik untuk kebutuhan personal bahkan hingga kebutuhan perusahaan komersial. Pesatnya perkembangan teknologi digital sangat mempengaruhi perkembangan kamera juga mempengaruhi kebiasaan orang dalam memotret.

Kamera digital menjadi barang yang lebih konsumtif dibandingkan dengan kamera analog (menggunakan film). Produsen kamera berlomba-lomba membuat kamera yang bermacam-macam pilihannya, mulai dari kamera medium format dengan digital back-nya yang harganya ”selangit”, kamera digital SLR yang juga masih mahal, hingga kamera pocket yang banyak sekali pilihannya, bahkan tidak ketinggalan handphone pun saat ini umumnya dilengkapi dengan kamera digital. Dalam artikel ini, hal yang dibahas hanya mengenai kamera digital pocket.

Bagaimana memilih kamera digital ? Tentu saja sangat tergantung dari budget yang anda punya dan juga tergantung dari tujuannya. Pertama Anda harus tentukan berapa budget-nya, jika kamera hanya untuk keperluan memotret yang ”normal-normal” saja, bukan untuk keperluan komersial, Anda tidak disarankan untuk membeli kamera Digital SLR, selain karena harganya yang relatif mahal, juga penggunaan kamera-nya pun menuntut kreatifitas penggunanya, diperlukan ilmu yang cukup untuk menggunakan kamera DSLR. Lain halnya jika Anda memang hobby photography.

Belilah kamera yang kualitas lensanya bagus, jangan terkecoh dengan kemampuan zoom kamera (digital zoom), kalaupun Anda tertarik dengan zoom, belilah kamera yang kemampuan optical zoom yang tinggi. Perlu diingat bahwa zoom digunakan untuk ”memperdekat” kamera dengan objek yang dipotret namun seringkali hasilnya sedikit buram tidak tajam, karena saat kamera menggunakan zoom, gerakan/guncangan tangan mempengaruhi kamera. Untuk itulah diperlukan flash dan tripod. Jika tidak ada tripod, setidak-tidaknya kamera Anda tidak bergerak saat jari menekan tombol kamera, bertopanglah pada sesuatu yang kokoh.

Resolusi kamera untuk keperluan personal, cukup menggunakan 2 – 5 Mega pixel, jika Anda punya cukup budget, bisa membeli kamera dengan resolusi 5 – 9 Mega Pixel. Banyak yang beranggapan resolusi kamera itu menentukan tajam tidaknya photo yang dihasilkan, anggapan itu keliru. Resolusi kamera berkaitan dengan ukuran cetak photo. Semakin besar resolusi, maka semakin besar photo yang baik untuk dicetak. Kamera di atas 10 Mega pixel (DSLR dan medium format) biasanya digunakan untuk keperluan komersial yang membutuhkan ukuran photo yang besar. Ketajaman gambar sangat ditentukan oleh kualitas/kondisi lensa dan bagaimana cara Anda memotret. Sedangkan warna photo sangat dipengaruhi processor yang ada di dalam kamera Anda dan ”olah digital” sebelum mencetaknya di labphoto/di printer Anda.

Perhatikan battery yang digunakan, pilihlah kamera yang menggunakan battery yang mudah diperoleh/ dijual di banyak toko dan harganya terjangkau. Battery Anda yang tahan lama tetapi sulit untuk menemukannya/mahal, itu menjadi kelemahan kamera Anda. Jika Anda menggunakan battery yang bisa di-charge, pastikan Anda punya battery cadangan agar kegiatan memotret Anda tidak terganggu gara-gara battery habis.

Jangan terkecoh dengan layar LCD, semakin besar layar LCD tidak menentukan bagusnya photo Anda, bahkan LCD yang besar malah ”membebani” processor kamera Anda dan ”menguras” battery. Itu sebabnya, pada kamera DSLR, pada saat memotret (shoot) tidak nampak gambar di layar LCD, karena kemampuan processor sepenuhnya digunakan untuk merekam image melalui sensor CCD/CMOS. Usahakan lihat histogram yang ada pada layar LCD, terang-gelapnya image bisa dianalisa dari histogramnya.

Pertimbangkan juga media penyimpanan data image, Compact Flash (CF), MMC atau yang lainnya. Ada media penyimpan yang harganya pada saat ini masih relatif mahal. Perhatikan kecepatan ”menulis” media penyimpan tersebut pada saat memotret.

Jangan lupakan fitur-fitur yang ada, jangan sampai fitur-fitur yang ada malah membuat Anda pusing / tidak user friendly. Secanggih apapun kamera, jika Anda pusing dibuatnya, maka kurang optimal digunakan, bisa jadi Anda akhirnya hanya menggunakan mode Program (P) dibandingkan dengan mode yang lain. Jika Anda mau berkreasi, dan mau mempelajari photography, pilihlah kamera yang memilili mode M (manual). Biasanya kamera yang memiliki mode M bentuknya tidak terlalu menarik, tetapi kemampuannya memang bisa diandalkan. Itu tergantung Anda sebagai user (”Man behind the gun”). Pelajari buku manual-nya, pastikan bahwa Anda mengerti simbol-simbol yang ada pada kamera Anda.

Satu lagi yang perlu diketahui, bahwa perkembangan teknologi digital memang cepat, sehingga jangan perlakukan kamera Anda seperti halnya handphone yang dengan mudah diperjual belikan. Usahakan Anda memilih kamera yang tepat untuk jangka waktu yang cukup lama, 3 – 5 tahun. Setelah itu pasti akan ada kamera yang ”lebih canggih” dan Anda tergiur untuk membelinya.

Pelajari dan bandingkan kemampuan / fitur-fitur kamera yang ada, Anda bisa melihatnya di website toko kamera. Percaya diri untuk membuat pilihan, jangan terlalu mengandalkan opini sales karena memang ”semua kecap adalah no.1”. Dengarlah opini rekan Anda yang sudah menggunakannya dengan baik, tanyakan kelebihan dan kekurangannya. Jika perlu, pinjam kamera rekan Anda selama 1 hari untuk praktek memotret sendiri, jika Anda puas dengannya, Anda bisa membelinya.

Dan terakhir yang juga penting adalah after sales service, pastikan bahwa kamera Anda akan ”mudah” untuk diperbaiki jika rusak dan tidak harus berkeliling-keliling mencari toko yang bisa memperbaikinya. Bisa jadi sparepart kamera Anda memang sulit dicari, atau bahkan kameranya sudah discontinue (tidak diproduksi lagi) sehingga biayanya menjadi mahal.

 

 

 

 

 

Selamat Tinggal Kamera Film?


“Selamat tinggal kamera film?” Mungkin ucapan itu tidak berlebihan jika melihat semakin pesatnya perkembangan kamera digital saat ini. Kehadirannya seperti tidak terbendunglagi. Bahkan para fotografer profesional dunia yang pada awalnya kurang berminat dengan alasan fotografi digital adalah penipuan dengan berbagai manipulasi di komputernya, kini mereka telah menggunakan fotografi digital..

Geliat fotografi digital dimulai pada awal 90-an. Fotografi memasuki era baru dengan adanya kamera digital. Kamera digital pertama diproduksi oleh kodak yaitu DCS 100 (Digital Camera System 100) yang ditempelkan pada bagian belakang Nikon F-3 sehingga imaji yang biasa ditangkap oleh film, ditangkap oleh sebuah keping yang menerjemahkan imaji itu ke dalam data digital. Fotografi digital menjadi mungkin dengan adanya sistem digital yang mendukung, seperti kamera digital, disket dan perangkat komputer beserta program-programnya (Adobe Photoshop, Aldus Photostyler, correl Photopaint, dll).

Perbedaan yang sangat mencolok antara kamera digital dan kamera film atau konvensional adalah tidak diperlukannya film pada kamera digital. Karena semua prosesnya terkomputerisasi maka seorang fotografer hanya perlu membawa memory card saja. Dinamakan kamera digital karena pada setiap prosesnya menggunakan angka-angka (digit) yaitu angka 0-1 yang hanya bisa dimengerti oleh komputer.

Meskipun pada awalnya fotografi digital kurang diminati oleh fotografer profesional, dengan alasan fotografi digital adalah penipuan dengan berbagai manipulasinya di kompueter. Fotografi digital sesungguhnya memiliki konsep dasar serupa dengan fotografi konvensional. Hukum-hukum fotografi yang menyangkut masalah optik tentang bukaan diafragma ataupun ruang cahaya tidak berubah. Terlepas dari kecanggihan yang ditawarkan oleh fotografi digital, ia adalah sebuah alat yang dibuat oleh manusia dan tanggung jawab penggunaannya ada ditangan manusia itu sendiri.

Untuk hal-hal yang berupa fakta, seperti kondisi sosial ekonomi masyarakat, tentulah manipulasinya sangat terbatas. Akan tetapi untuk hal-hal yang berupa ilustrasi dan bukan fakta dapatlah dilakukan, tentu saja dengan tetap mengacu pada kode etik yang berlaku. Keuntungan dari fotografi digital adalah kemampuannya menghasilkan gambar dalam waktu relatif cepat dibandingkan metode konvensional, menyimpan gambar dalam jangka waktu lama.

 

 

Selain itu, misalnya bagi keluarga yang mengadakan wisata sambil melakukan pemotretan dengan kamera digital, gambarnya dapat dilihat langsung dengan menggunakan kabel dihubungkan ke TV. Tidak diperlukannya kamar gelap untuk pemrosesan foto. Cukup seperangkat pada kondisi ruang dengan pencahayaan biasa. Masalah keakuratan data pun pada fotografi digital sangatlah akurat , karena imaji yang direkam dalam sebuah memory card dapat direkam berulang-ulang tanpa mengalami kerusakan.

Di dalam dunia pendidikan, fotografi digital akan sangat membantu. Misalnya untuk mengajarkan cara membidik, paling cuma butuh waktu lima menit. Hasil gambarnya dapat dilihat langsung dan kalau tidak suka bisa dihapus dan diulang lagi. Foto digital murni adalah foto yang sejak pemotretan, pemrosesan sampai penyimpanannya memakai sarana digital murni. Seperti kamera digital untuk pemotretan, memory card untuk menyimpan data berupa imaji, hard disk atau juga optical disk, dan program komputer untuk mengolah data. Teknologi pengolahan fotografi digital sendiri telah ada sebelumnya yaitu mengubah film dari kamera konvensional menjadi data digital.

Hal yang mempengaruhi kualitas kehalusan gambar itu sangat berkaitan dengan resolusi gambar yang dihasilkan. Kehalusan gambar atau resolusi gambar sampai saat ini menggunakan dua ukuran, yaitu DPI (Dot Per Inch) dan Pixel (picture element). Proses pencetakan suatu gambar sesungguhnya berasal dari gabungan titik amat kecil tidak terlihat oleh mata biasa. Sampai saat ini kemampuan resolusi rekaman kamera digital sudah cukup tinggi. Untuk kelas kompak saja misalnya sudah ada yang mencapai 8 juta pixel pada setiap gambarnya.

Dalam perkembangannya kamera digital itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu low -end (kamera dengan resolusi rendah) dan high end (kamera resolusi tinggi sejenis SLR), Fokus produksi kamera digital lebih banyak bertuimpu pada jenis low -end. Kodak adalah pionir produsen kamera digital pertama yang telah merintis usahanya bersama dengan Nikon sejak tahun 1990. Yaitu dengan menempelkan Kodak DCS-100 pada kamera Nikon F-3, selama lima tahun berturut-turut produk ini belum ada yang menyaingi.

Hal tersebut kemudian diikuti (1995) oleh produsen kamera lain yang mulai berlomba-lomba memproduksi kamera digital. Canon misalnya memproduksi Canon EOS DCS 3 dengan resolusi 1268 x 1012 pixel, kepekaannya berkisar antara ISO 200 sampai ISO 1600. Pada tahun yang sama Kodak yang bekerja sama dengan Nikon mengeluarkan Kodak DCS 420 dan DCS 460 yang dipasangkan di kamera Nikon N90.

Sementara itu Fuji yang bekerja sama dengan Nikon mengklaim telah berhasil memproduksi kamera digital pertama bagi para profesional yang murni tanpa film, yaitu kamera Fuji-Nikon

 

E2. Proses penangkapan imajinya melalui kartu PMCIA (Personal Computer memory card International Association). Resolusi yang ditawarkan sama dengan Kodak DCS 100 yaitu 1,3 juta pixels.

Diawal perkembangan kamera digital, kebanyakan produsen melakukan kerja sama dalam pembuatan kamera. Hal ini karena ada perusahaan kamera yang mampu membuat imaji dari sarana optis sementara produsen lain memilki kemampuan dalam mengolah data digital. Kini masalah itu sudah teratasi. Itu terlihat dari perkembangan kamera yang semakin marak khususnya untuk jenis kamera di kelas kompak, bukan SLR. Hebatnya, Olympus Mju-800 misalnya, meski berjenis kamera kompak tapi berkemampuan resolusi tertinggi di kelasnya, yaitu 8 juta pixels maka mencetak foto di atas kertas foto tak kurang dari 10R sekalipun, kualitasnya tetap baik.

Demikian pula halnya dengan kamera SLR. Persaingannya pun tidak kalah seru. Para produsen kamera dunia, seperti Canon, Nikon, Konica Minolta, dan Olympus masing-masing saling menawarkan keunggulan fitur-fitur yang melekat di kamera. Bahkan Konica Minolta mengklaim sebagai pelopor kamera digital berteknologi Anti Shake (anti goyang).

Maraknya kamera digital juga telah berakibat pada perang harga. Dulu orang berpikir dua kali untuk membeli kamera digital. Namun sekarang dengan uang Rp 1 juta lebih sudah bisa membawa pulang kamera digital jenis kompak. Bahkan dewasa ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung serta Medan, di sana kamera digital keberadaanya sudah begitu familiar.

Soal resolusi sampai saat ini masih merupakan “senjata pamungkas” bagi produsen kamera untuk memikat konsumen.

Produsen kamera bersaing menciptakan kamera digital dengan resolusi yang lebih tinggi lagi dan tentunya dengan harga yang terjangkau kocek konsumen. Di sebelah lain, bagi konsumen, dalam persaingan pasar seperti itu dibutuhkan kejelian dalam memilih kamera tentunya disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing

 

 

 

 

 

Kamera Digital Tak Dapat
Gantikan Kamera Analog

Jakarta – Maraknya penjualan dan perkembangan kamera digital, menurut para produsen dan pedagang kamera, serta fotografer di Indocomtech 2004, yang sedang di gelar di Jakarta, mengancam namun tidak dapat menggantikan kamera analog.
“Dua tahun terakhir ini perkembangan kamera digital memang sangat pesat. Keberadaannya mengancam kamera analog, namun belum dapat menggantikan,” kata Johan Kartakusuma, fotografer dan kepala pemasaran ILFORD Indonesia, di Jakarta, Jumat (8/10).
Johan yang hari itu memberikan kursus singkat tentang tehnik pemotretan dengan kamera digital mengatakan, memang saat ini banyak orang cenderung menggunakan kamera digital karena mudah dan praktis, namun itu hanya merupakan trend yang nantinya juga akan berganti.
“Sama seperi saat kemunculan film negatif berwarna. Banyak orang mengkhawatirkan film hitam putih akan hilang dan dilupakan, namun buktinya saat ini film tersebut malah menjadi mahal dan hasil cetakannya memiliki nilai estetis lebih tinggi,” kata Johan.
Minat pengunjung pameran akan kamera digital dapat dilihat dari jumlah pembeli dan ramainya stand yang memajang kamera tersebut. “Banyak yang menanyakan dan kemudian membeli kamera seperti itu. Tahun kemarin saja selama lima hari pameran kami berhasil menjual 40 unit,” kata Franky di stand My Gadgetex yang menjual beberapa merek kamera digital. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan komputer tangan, perekam suara digital yang tidak sampai 10 unit.

Pasar Tersendiri
Namun, menurut Franky, kamera analog tetap memiliki pasarnya tersendiri. Meskipun demikian, tokonya tetap berkonsentrasi pada penjualan kamera digital. Menurut Johan, fotografer yang baru menggunakan kamera digital selama dua tahun itu, banyak keunggulan yang diperoleh dari kamera tersebut. Antara lain, tidak perlu menggunakan film, cukup dengan memory card yang dapat dipergunakan seumur hidup.
Beratnya yang lebih ringan dan ringkas memudahkan untuk dibawa ke mana-mana. Fiture yang disediakan juga cukup lengkap, dilengkapi dengan build in filter yang dapat membuat gambar semakin tajam atau sedikit samar. Ada pula fiture yang dapat merubah warna menjadi hitam putih atau berwarna. Sedangkan kelemahannya, baterai cepat habis dan harganya relatif lebih mahal.
Beberapa pembeli di pameran tersebut mengatakan kalau mereka tertarik pada kamera digital kerana mudah dioperasikan dan hasilnya dapat langsung dilihat di layar. “Saya sebelumnya tidak pernah pakai kamera biasa, bingung menggunakannya. Sudah belajar tapi tidak bisa-bisa. Kalau pakai kamera digital mudah,” kata Sisca (21), mahasiswa yang menjadi wartawan kampus itu.
Sisca mengatakan, ia hanya mempelajari penggunaan kamera dari penjual di toko kamera dan langsung dapat menghasilkan gambar yang baik. “Tapi memang lebih baik kalau juga bisa menggunakan kamera biasa (analog, red.) karena itu kan dasarnya fotografi,” demikian Sisca

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan Kamera Digital Makin Terarah

SEJAK kamera digital makin digemari pada awal tahun 90-an, perkembangannya sempat tidak karuan alias agak “liar”. Sebelum segenap pelaku digital sempat duduk bersama menyelaraskan keinginan bersama, tuntutan untuk bersaing di pasaran bebas memacu siapa pun untuk terus berlari tanpa mengeok kiri kanan lagi. Akibatnya, muncul banyak standar yang akhirnya membingungkan pemakai.

HAL pertama yang paling membingungkan pemakai kamera digital adalah masalah kartu memori. Kartu memori ini sangat menentukan pada fotografi digital karena di situlah gambar hasil pemotretan disimpan. Ada banyak macam kartu memori di pasaran saat ini, dan itu cukup merepotkan karena setiap jenis kartu tidaklah kompatibel dengan kartu jenis lain.

Kartu memori yang umum saat ini adalah Smart Media (SM), Compact Flash (CF), Secure Digital (SD), Memory Stick (MS), Extra SD (XD) serta Multi-Media Card (MMC). Namun, perkembangan menunjukkan bahwa arah pemakaian kartu memori mengerucut menjadi CF dan SD.

CF memang makin populer dipakai untuk kamera-kamera profesional berkemampuan besar, sementara SD makin menjadi standar pada kamera saku. Secara harga, kedua kartu ini juga yang termurah saat ini.

Perusahaan Fuji yang dulu mengembangkan Smart Media, mulai memakai CF pada kamera-kamera produksinya, seperti dimulai sejak kamera Fuji S2-pro. Perusahaan Sony yang mengembangkan Memory Stick, juga menyadari kepopuleran CF. Maka pada saat memproduksi kamera F828, Sony membuat slot baru agar F828 selain bisa memakai MS, juga bisa memakai CF.

Pada pameran fotografi dunia Photokina di Cologne, Jerman, 28 September-3 Oktober 2004 ini, perusahaan Sandisk mengeluarkan tiga kartu memori baru yang kemampuan rekamnya sangat besar di samping kecepatan rekamnya yang sangat tinggi.

Standardisasi dalam dunia fotografi digital juga akan masuk dalam format penyimpanan foto. Selama ini hanya format JPG saja yang universal. Padahal, format ini mengandung penurunan mutu.

Format penyimpanan foto yang paling lengkap dan tanpa penurunan mutu hanyalah format RAW yang bahkan sampai menyimpan data white balance (pengaturan warna). Namun, format RAW ini berbeda-beda tergantung merek kameranya.

Akhir September lalu, perusahaan pembuat perangkat lunak olah gambar Adobe mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan format RAW model baru yang menjembatani semua format RAW yang ada. Dengan nama Digital Negative Specification atau disingkat DNG, format foto ini tampaknya akan menjadi format foto standar di masa depan.

PERKEMBANGAN dalam dunia kamera digital yang juga makin terarah adalah masalah megapiksel. Dalam level kamera umum, orang sudah tidak terlalu jor-joran lagi dalam mengembangkan ukuran ini. Kamera-kamera saku yang sangat laku saat ini adalah yang berkemampuan sekitar 3 sampai 5 megapiksel saja.

Memang, ada kamera saku yang bisa merekam sampai 8 megapiksel bahkan lebih saat ini. Tapi kamera itu hanya menjadi bahan kekaguman bagi penggemar dan bahan bangga diri bagi pabriknya saja. Di pasar, penjualannya tidaklah terlalu tinggi.

Dengan kemampuan rekam 3 megapiksel, sebuah kamera saku sudah bisa menghasilkan cetakan foto sampai 10 R dengan sangat baik. Dan, untuk takaran mutu foto keluarga biasa, kalau sebuah foto mampu dicetak 10 R, sebenarnya foto itu juga mampu dicetak sampai sebesar apa pun. Melihat foto berukuran besar kan tidak dengan memelototinya dari jarak 30 sentimeter.

Namun, dalam tataran kamera digital profesional, ada tuntutan yang tidak pernah habis pada ukuran megapiksel. Masalahnya, dalam dunia profesional seperti jurnalis, sebuah foto sering harus dipaksa menghasilkan foto lain dengan cara memotongnya (cropping). Potong-memotong dalam fotografi akhirnya memaksa munculnya kamera-kamera berkemampuan rekam sampai 16 megapiksel atau lebih.

Secara logika bisa dimengerti bahwa ukuran megapiksel yang besar membuat proses rekam dan pindah foto menjadi lambat. Maka, persaingan pada kelas kamera digital profesional juga berkisar pada persaingan siapa tercepat. Kamera Nikon D2X yang akan masuk pasaran tidak lama lagi, mampu merekam foto berukuran 6,8 megapiksel dengan kecepatan 8 bingkai per detik.

YANG juga masih ramai diperdebatkan orang sampai saat ini adalah mana yang lebih bagus antara fotografi digital dan fotografi analog. Kedua aliran ini punya pengikut tersendiri yang cukup fanatik.

Kalau mau berpikir logis, siapa pun harus mengakui bahwa fotografi digital di masa depan akan mengubur fotografi analog habis-habisan. Saat ini saja penjualan film sudah menurun sangat drastis. Keunggulan fotografi analog yang masih ada saat ini hanyalah luasnya jangkauan warna pada film slide. Namun, dalam beberapa tahun mendatang, fotografi digital pasti sudah mencapai kemajuan yang mampu mengalahkan segala keunggulan fotografi analog ini.

Walau begitu, kita toh masih bisa mengerti kalau ada orang-orang yang ngotot tetap memakai kamera berfilm. Mereka mengatakan bahwa memotret dengan kamera digital tidak berseni. Hal ini rasanya sama dengan orang-orang yang memasak memakai arang. Menurut mereka rasa masakan yang dimasak dengan arang jauh lebih enak daripada masakan yang dimasak dengan kompor modern. Padahal, bagi orang modern, memasak dengan arang hanya membuat kotor rumah saja. Sebuah perdebatan yang tidak akan pernah selesai.

Maka, pada pameran fotografi internasional Photokina di Cologne ini, ada banyak kamera lucu muncul di pasaran, seperti kamera refleks lensa ganda namun digital. Bayangkan, kamera refleks lensa ganda yang merupakan generasi sebelum munculnya kamera refleks lensa tunggal (single lens refleks/SLR), malah digabungkan dengan teknologi digital. Kamera jenis ini diciptakan untuk menjembatani kenyataan kehadiran teknologi digital pada orang-orang yang senang pada masa lalu. (Arbain Rambey)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Xacti VPC-J4
Kamera Digital Secepat Kuda Balap

PERKEMBANGAN kamera digital menjadi semakin marak dengan seri terbaru dari beberapa merek terkenal. Tahun 2004 kita akan mulai melihat perkembangan lebih maju lagi dari kamera digital yang memuat banyak sekali fitur, menghasilkan resolusi yang lebih banyak dengan gambar yang lebih tajam, berbagai fitur teknologi yang tidak terdapat pada seri sebelumnya, serta harga jual yang lebih terjangkau.

PADA pameran teknologi terbesar di dunia, Cebit 2004, yang diselenggarakan di Hannover, Jerman, pertengahan bulan lalu, berbagai macam kamera digital bermunculan dengan rancang desain dan teknologi yang lebih maju dibanding kamera yang ada di pasaran sekarang. Sanyo Electric Co asal Jepang kembali memperkenalkan model Xacti VPC-J4, kamera digital yang merupakan kelanjutan seri VPC-J1EX yang menampilkan citra kekuatan yang ingin menyatu dengan alam raya (lihat Kompas, 30 Juni 2003).

Ada beberapa perubahan penting yang dilakukan Sanyo pada kamera digitalnya, VPC-J4, dengan seri sebelumnya. Salah satu yang menarik perhatian Kompas setelah mencobanya beberapa saat adalah rancangannya yang semakin kecil, ramping, dan ringan, menjadikan kamera ini nyaman dimasukkan di saku celana maupun saku baju. Sama seperti kita mengantongi ponsel.

Perubahan lain yang dilakukan pada Sanyo J4 ini dibanding seri sebelumnya adalah kemampuan pengambilan foto digital resolusi tinggi melalui teknologi interpolasi pada CCD (Charge Coupled Device) yang menjadi pengganti film dalam era digital sekarang ini. Berbeda dengan pengembangan teknologi interpolasi yang dikembangkan kamera Fuji menggunakan SuperCCD yang berbentuk seperti sarang lebah, Sanyo J4 ini menggunakan CCD standar dengan mengatur algoritma sedemikian rupa sehingga sel-sel sensitif foto tidak mengalami terlalu banyak gangguan elektronik ketika dipadatkan.

Standar resolusi Xacti VPC-J4 ini 4,23 megapiksel (2.288 x 1712 piksel) dan mampu ditingkatkan menjadi 8 megapiksel (3.264 x 2.448 piksel) yang bisa dipilih melalui menu pada kamera ini. Banyak orang yang meragukan dan menyangsikan kalau teknologi interpolasi ini bukan resolusi murni dan merupakan manipulasi atas sensitivitas pencahayaan sehingga khawatir kalau hasilnya tidak sempurna.

Sebenarnya, teknologi interpolasi ini merupakan sebuah proses yang sudah lama dikenal dalam dunia foto digital untuk menjadikan gambar-gambar digital yang kecil menjadi besar. Selain mencangkokkan algoritma ke dalam kamera digital, teknik interpolasi juga bisa dilakukan melalui perangkat lunak dengan cara memperbesar sebuah foto atau gambar untuk menghasilkan piksel-piksel, mengisi kekosongan pada seluruh arena foto. Teknologi ini menghasilkan foto dengan garis yang lebih halus dan pencetakan foto pembesaran yang lebih baik dibanding dengan foto kecil orisinal yang dicetak dalam ukuran besar.

Kuda balap

Yang menarik dari kamera Xacti J4 berukuran panjang 101 mm, lebar 46 mm, dan tebal 26 mm ini adalah kecepatannya dalam pengoperasian sehingga para pengamat kamera digital menjulukinya sebagai kuda balap. Xacti J4 hanya membutuhkan waktu 0,8 detik untuk memulai pengoperasian, dimulai pada saat kita membuka penutup lensa yang menghidupkan dan mematikan kamera.

Dan, kamera digital buatan Sanyo ini hanya membutuhkan waktu 1,5 detik dari pengambilan foto yang satu ke berikutnya sehingga tanpa menunggu jeda foto yang baru diambil disimpan terlebih dahulu ke dalam SD Card, seperti pada umumnya kamera digital yang ada sekarang di pasaran. Dan, Xacti J4 ini membutuhkan waktu 0,5 detik untuk masuk ke dalam posisi playback guna melihat hasil foto-foto yang direkam.

Memiliki monitor tampilan dengan diagonal 4,5 cm, menjadikan Xacti J4 ini nyaman untuk digunakan untuk membidik pengambilan foto. Menu pilihan pada kamera digital ini juga mudah digunakan dengan berbagai pilihan fitur-fitur pengambilan foto standar, seperti untuk mengambil adegan olahraga, fokus lembut, posisi lanskap atau potret, maupun pilihan kreatif lainnya (hitam-putih atau foto dengan akses sepia). Semua ini menjadikan Xacti J4 seperti mainan anak- anak yang menyenangkan.

Fitur lainnya yang selalu menarik ketika Kompas menggunakan kamera digital buatan Sanyo ini adalah kemampuannya untuk mengambil foto digital dalam posisi makro dengan kedekatan sampai 2 cm dari obyek yang dipilih. Hasil pengambilan makro ini selalu menarik dengan kualitas yang sangat jernih, jelas, dan tajam.

Kamera digital ini juga memiliki fungsi video dengan hasil kualitas DVD dan kemampuan rekaman yang hanya dibatasi oleh media penyimpanan digital SD Card yang menjadi standar penyimpanan Xacti J4 ini. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan menyimpan video pada SD Card sebesar 512 MB tercatat sekitar 5 menit, seharusnya lebih baik mengingat Sanyo sendiri mampu mengembangkan perekaman video digital dengan kompresi yang tinggi untuk memperpanjang waktu rekaman.

Kamera Xacti J4 dengan lensa 5,7-16 mm (setara dengan 37-104 mm pada kamera yang 35 mm) menjadi pilihan penting untuk dimiliki sebagai kamera saku tercepat. Dengan demikian, kita pun tidak lagi akan ketinggalan untuk mengabadikan berbagai adegan penting dan menarik yang tidak terulang lagi.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s